Sabtu, 04 Januari 2014

MENCINTAI RASULULLAH-MENJADIKAN BELIAU SEBAGAI IDOLA KITA-DAN MANUSIA YANG PALING KITA CINTAI

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ

"Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab...) tentang penghuni-penghuni neraka". (Terjemah Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 149).

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا
وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur". (Terjemah Al-Quran Surat Al- Imran ayat 144).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (Terjemah Al-Quran Surat Al-Ahzab ayat 21).

---DI AKHERAT SESEORANG BERSAMA YANG DICINTAI---

Anas bin Malik Radhiallahu 'anhu mengisahkan, "Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?" Nabi pun shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?" Orang itu menjawab, "Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم." Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun bersabda, "Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai." Anas pun berkata, "Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم, 'Engkau akan bersama orang yang engkau cintai". Anas kembali berkata, "Aku mencintai Nabi صلى الله عليه وسلم, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari (X/557 no: 6171) dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (2385))

Dari Anas Radhiallahu 'anhu berkata: Seorang Arab bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, "Bilakah hari kiamat?" Rasulullah saw menjawab, "Apakah bekalmu untuk menghadapinya?" Ia menjawabnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka Rasulullah saw bersabda, "Engkau akan berkumpul dengan orang yang engkau cintai."(HR. Bukhari - Muslim).
SALAH SATU KISAH KETLDANAN BELIAU
Pernah terjadi dimasa lalu, setiap kali Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم, berjalan melewati sebuah gang/jalan kecil, saat Beliau sampai di depan rumah seorang yahudi, orang yahudi tersebut punya kebiasaan unik yang rutin dilakukan terhadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم , yaitu meludahi Rasulullah dari depan rumahnya. Ini berlangsung setiap hari Rasulullah lewat di depan rumahnya. Lalu apa reaksiRasulullah صلى الله عليه وسلم ? Apakah Beliau membalasnya..? tidak, Beliau hanya tersenyum kepada orang yang meludahinya, membersihkan ludah yang menempel di badan atau baju Beliau, dan pergi meninggalkan orang yahudi si peludah ini. Bagaimana kira-kira jika kejadian rutin yang di alami oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dialami oleh kita..? Kira-kira apa yang akan kita lakukan..?

Sampai pada suatu pagi ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم lewat di depan rumah orang yahudi "sang peludah", Beliau heran karena tidak diludahi seperti biasanya. Esok hari Beliau lewat di depan rumah orang yahudi "sang peludah" lagi, hari berikutnya begitu juga dua, sampai di hari ketiga tetap tidak ada ludah dari si Yahudi. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun mencari berita, pergi kemana si Yahudi ini, dan Beliau mendapat laporan bahwa ternyata dia sedang sakit. Reaksi Beliau saat mendengar si Yahudi ini sakit adalah langsung mendatangi ke rumahnya. Sesampainya, betapa kagetnya si Yahudi pemilik rumah bahwa orang yang selama ini diludahinya, disakiti setiap hari, ternyata adalah orang pertama kali menjenguknya di saat dia sakit.

Awalnya Si Yahudi diliputi rasa hawatir bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan membalas menyakitinya dikarenakan dirinya yang sedang sakit dan lemah tidak berdaya, tetapi apa yang disangkakannya ternyata keliru. Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang untuk menjenguk, bahkan kemudian Beliau mendoakan Si Yahudi agar sembuh dari penyakitnya. Doa Rasulullah itu tanpa hijab (penghalang) dan tidak pernah tertolak. Maka tidak lama kemudian, sembuhlah Si Yahudi ini dari sakitnya. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Si Yahudi memeluk erat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan menyatakan ingin masuk Islam. Dia kemudian mengucapkan Syahadat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan untuk memeluk agama Islam. Asyhadu allaa ilaa ha illallaah wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah (saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah).


Ini benar-benar SANGAT LUAR BIASA, akhlak Rasulullah صلى الله عليه وسلم
tauladan kita semua, pensikapan terhadap kisah ini, mungkin beberapa orang akan mengatakan, "Ya jelas saja Beliau itu Nabi dan Rasul..!... Rasulullah صلى الله عليه وسلم bisa sabar diludahi orang, kan Beliau itu Nabi..! Dengan diutus kepada kita seorang Nabi Rasulullah صلى الله عليه وسلم dari kalangan manusia bukan malaikat, adalah biar tidak akan muncul sanggahan dari manusia untuk tidak bisa mencontoh Beliau, dengan berkata-kata seperti di atas...

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab:21).

MENCINTAI RASULULLAH BERARTI MENGIKUTI SUNNAHNYA
Sunnah Rasulullah : yang berarti segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah , baik ucapan, perbuatan maupun penetapan beliau kitab “Taujiihun nazhar ila ushuulil atsar” (1/40), memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, karena Allah  menjadikan sunnah Rasulullah  sebagai penjelas dan penjabar dari al-Qur’an yang mulia, yang merupakan sumber utama syariat Islam. Oleh karena itu, tanpa memahami sunnah Rasulullah  dengan baik, seseorang tidak mungkin dapat menjalankan agama Islam dengan benar.

Allah berfirman:

وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (dari Allah ), supaya mereka memikirkan” (QS an-Nahl:44).

Ketika Ummul mu’minin ‘Aisyah t ditanya tentang ahlak (tingkah laku) Rasulullah , beliau menjawab: “Sungguh akhlak Rasulullah  adalah al-Qur’an”[ HR. Muslim (no. 746)]. Ini berarti bahwa Rasulullah  adalah orang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan isi al-Qur’an, menegakkan hukum-hukumnya dan menghiasi diri dengan adab-adabnya[Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam kitab “Syarh shahih Muslim” (6/26)]. Maka orang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan sunnah Rasulullah , dialah yang paling sempurna dalam berpegang teguh dan mengamalkan al-Qur’an dan agama Islam secara keseluruhan.

Imam Ahmad bin Hambal – semoga Allah  merahmatinya – berkata: “(Termasuk) landasan (utama) sunnah (syariat Islam) menurut (pandangan) kami (Ahlus sunnah wal jama’ah) adalah: bahwa sunnah Rasulullah  adalah penafsir dan argumentasi (yang menjelaskan makna) al-Qur’an”[Kitab “Ushuulus sunnah” (hal. 3)].

Oleh karena itulah, para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah mendefinisikan sunnah Rasulullah  sebagai sesuatu yang mencakup syariat Islam secara keseluruhan, baik ucapan, perbuatan maupun keyakinan[kitab “Jaami’ul uluumi wal hikam” (hal. 321)].

Imam Abu Muhammad al-Barbahari[Hasan bin ‘Ali bin Khalaf al-Barbahari al-Bagdadi (wafat 328 H), biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (15/90)] berkata: “Ketahuilah, bahwa Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu dialah Islam, yang masing-masing dari keduanya tidak akan tegak tanpa ada yang lainnya”[Kitab “Syarhus sunnah” (hal. 59)].

Mengikuti Rasulullah dengan benar sebagai bukti cinta kepada Allah
Allah  berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31).

Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah , maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad  dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya”[Tafsir Ibnu Katsir (1/477)].

Imam al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahshubi berkata: “Ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah  adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah  yang utama adalah (dengan) meneladani beliau , mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit”[ Kitab “asy-Syifa bita’riifi huquuqil mushthafa” (2/24)].

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah  yang sebenarnya adalah dengan meneladani petunjuk dan sunnah beliau , dengan berusaha mempelajari dan mengamalkannya dengan baik. Dan bukanlah mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah  dengan melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah[10] dengan mengatasnamakan cinta kepada beliau , atau memuji dan mensifati beliau  secara berlebihan, dengan menempatkan beliau  melebihi kedudukan yang telah Allah  tempatkan beliau padanya[kitab “Mahabbatur Rasul  bainal ittibaa’ wal ibtidaa’” (hal. 65-71)].

Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah  bersabda: “Janganlah kalian memuji diriku secara berlebihan dan melampaui batas, sebagaimana orang-orang nasrani melampaui batas dalam memuji (Nabi Isa) bin Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya”[HSR al-Bukhari (no. 3261)].

Inilah makna cinta kepada Rasulullah  yang dipahami dan diamalkan oleh generasi terbaik umat ini, para sahabat y. Anas bin Malik t berkata: “Tidak ada seorangpun yang paling dicintai oleh para sahabat Rasulullah  melebihi beliau , akan tetapi jika mereka melihat beliau , mereka tidak berdiri (untuk menghormati beliau ), karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah  membenci perbuatan tersebut”[HR at-Tirmidzi (5/90) dan Ahmad (3/132), dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani].

Bagaimana menyempurnakan cinta kepada sunnah Nabi  dalam diri kita?

Imam Ibnu Rajab al-Hambali membagi derajat (tingakatan) cinta kepada Rasulullah  menjadi dua tingakatan, yang berarti dengan menyempurnakan dua tingkatan ini seorang akan memiliki kecintaan yang sempurna kepada sunnah Rasulullah , yang ini merupakan tanda kesempurnaan iman dalam dirinya.

Dua tingkatan tersebut adalah:

1- Tingkatan yang fardhu (wajib), yaitu kecintaan (kepada Rasulullah ) yang mengandung konsekwensi menerima dan mengambil semua petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah  dari sisi Allah dengan (penuh rasa) cinta, ridha, hormat dan patuh, serta tidak mencari petunjuk dari selain jalan (sunnah) beliau  secara utuh. Kemudian mengikuti dengan baik agama yang beliau  sampaikan dari Allah, dengan membenarkan semua berita yang beliau sampaikan, mantaati semua kewajiban yang beliau perintahkan, maninggalkan semua perbuatan haram yang dilarangnya, serta menolong dan berjihad (membela) agamanya, sesuai dengan kemampuan unutk (mengahadapi) orang-orang yang menentangnya. Tingkatan ini harus dipenuhi (oleh setiap muslim) dan tanpanya keimanan (seseorang) tidak akan sempurna.

2- Tingkatan fadhl (keutamaan/kemuliaan), yaitu kecintaan (kepada Rasulullah ) yang mengandung konsekwensi meneladani beliau  dengan baik, mengikuti sunnah beliau  dengan benar, dalam tingkah laku, adab (etika), ibadah-ibadah sunnah (anjuran), makan, minum, pakaian, pergaulan yang baik dengan keluarga, serta semua adab beliau  yang sempurna dan akhlak beliau yang suci. Demikian juga memberikan perhatian (besar) untuk memahami sejarah dan perjalanan hidup beliau , rasa senang dalam hati dengan mencintai, mengagungkan dan memuliakan beliau , senang mendengarkan ucapan (hadits) beliau , dan selalu (mendahulukan) ucapan beliau  di atas ucapan selain beliau. Dan termasuk yang paling utama dalam tingkatan ini adalah meneladani beliau  sikap zuhud beliau terhadap dunia, mencukupkan diri dengan hidup seadanya (sederhana) di dunia, dan kecintaan beliau  kepada (balasan yang sempurna) di akhirat (kelak)”[ Kitab “Istinyaaqu nasiimil unsi min nafahaati riyaadhil qudsi” (hal. 34-35].

Keutamaan mengikuti sunnah Rasulullah

     Allah  berfirman:

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzaab:21).

Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti sunnah Rasulullah , karena Allah  sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah  sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah Rasulullah  berarti dia telah menempuh ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah.

Ketika menafsirkan ayat ini, imam Ibnu Katsir berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan landasan yang agung dalam meneladani Rasulullah  dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan beliau “[Tafsir Ibnu Katsir (3/626).].

Kemudian firman Allah  di akhir ayat ini mengisyaratkan satu faidah yang penting untuk direnungkan, yaitu keterikatan antara meneladani sunnah Rasulullah  dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir, yang ini berarti bahwa semangat dan kesungguhan seorang muslim untuk meneladani sunnah Rasulullah  merupakan pertanda kesempurnaan imannya.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menjelaskan makna ayat di atas berkata: “Teladan yang baik (pada diri Rasulullah ) ini, yang akan mendapatkan taufik (dari Allah ) untuk mengikutinya hanyalah orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan) di hari akhir. Karena (kesempurnaan) iman, ketakutan pada Allah, serta pengharapan balasan kebaikan dan ketakutan akan siksaan Allah, inilah yang memotivasi seseorang untuk meneladani (sunnah) Rasulullah “[Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 481].
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~ Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.

"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)

"Bersegeralah kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang (gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga) ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
MENJADI PRIBADI YANG MENYENANGKAN

KITA SEMUA tentu sangat menginginkan orang-orang yang terdekat dengan kita, anak-anak, keluarga, kaum kerabat, bahkan tetangga dan segenap manusia menjadi orang-orang yang baik yang setia mengabdi kepada Allah سبحانه و تعالى . Rasa tanggung jawab dan keinginan yang besar untuk melihat semua orang beragama secara benar membuat kita terdorong untuk terjun langsung memperjuangkanya... Dan besarnya harapan terhadap pencapaian keberhasilan sebuah perjuangan ini, semakin mendorong untuk lebih melengkapi pada diri kita masing-masing "persyaratan" agar kita di terima oleh anak-anak kita.., diterima oleh semua orang sebagai komunikator kebaikan dan kebenaran. ---- Salah satu bukti nyata bahwa kita berkeinginan besar melihat orang lain berubah menjadi lebih baik adalah kesungguhan kita membangun "KUALITAS DIRI"----

KUALITAS DIRI menjadi syarat utama sejauh mana TINGKAT DITERIMANYA diri kita oleh fihak lain, dan untuk ini kita sangat membutuhkan capaian maksimal ber-akhlaq karimah.

"Barangsiapa yang diserahi amanat untuk mengurus kebutuhan umat, namun ia lalai atau tidak memperdulikan kebutuhan, kepentingan dan keterdesakan mereka, maka Allah سبحانه و تعالى. akan memperlakukannya sama dengan tidak akan memperdulikan kebutuhan, kepentingan dan keterdesakannya di akherat kelak". (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).
----------------------------------------------------------------------------------
~~~ Rendah Hati Dan Lemah Lembut...

Setiap diri kita diberikan kelabihan-kelebihan tertentu yang berbeda-beda satu dengan yang lainya oleh Allah سبحانه و تعالى , jaga wajah ceria dan tidak bersikap angkuh, berendah hatilah, bersikap tawadlulah dengan kelebihan-kelebihan tertentu yang telah Allah سبحانه و تعالى anugerahkan maka niscaya fihak lain akan lebih nyaman, LEBIH SUKA berdekatan dan bergaul dengan kita dibandingkan dengan apabila kita bersikap sebaliknya...

"Tak mungkin kalian dapat memberikan kelonggaran kepada seluruh manusia dengan harta kalian,akan tetapi kalian dapat memberikan keluasan kepada mereka dengan wajah cerah dan akhlak yang terpuji". (HR. Abu Ya'la dan Al-Bazzar)

"Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu(Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Seandainya kamu bersikap keras lagi kasar, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu." (Terjemah Al-Quran Surat Al-'Imran Ayat 159).

Allah Ta’ala berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Terjemah Al-Quran An-Nahl Ayat 125).

Allah Ta’ala berfirman: “Maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”. ((Terjemah Al-Quran Surat Al-Isra’ Ayat 28).

Allah Ta’ala berfirman: "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku; hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik". (Terjemah Al-Quran Surat Al-Isra’ Ayat 53).

Aisyah radhiallahu anha pernah mengabarkan kepadanya, bahwa ada seorang laki-laki minta izin untuk menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka Nabi berkata: "Izinkanlah ia, sungguh ia adalah sejelek-jelek anak di kaum (kabilah)-nya", atau Beliau صلى الله عليه وسلم berkata: “Ia adalah sejelek-jelek orang di kaum (kabilah)-nya”. Maka tatkala orang itu masuk, Nabi Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun berbicara padanya dengan lemah lembut. Aku (Aisyah) pun berkata keada beliau: “Ya Rasulullah, engkau telah mengatakan apa yang barusan engkau katakan , kemudian engkau berbicara padanya dengan lemah lembut?”. Rasulullahصلى الله عليه وسلم menjawab: “Wahai Aisyah, sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan dan dijauhi masyarakat untuk menghindari kejelekannya“.(HR. Bukhari no. 5780 dan Muslim no. 2591).
----------------------------------------------------------------------------------
~~~ Berlaku zuhud dalam hidup...

"Diterangkan dari Abul Abas Sahl bin Sa'ad as-Sa'idi, ra. ia berkata,

Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi صلى الله عليه وسلم lalu berkata: "Wahai Rasulullah, tunjukan kepadaku suatu amal yang apabila aku amalkan Allah dan manusia akan mencintaiku." Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia maka manusia pun akan mencintaimu". (HR. Ibnu Majah-Hasan).

Zuhud terhadap terhadap apa yang di dunia; bekerja keras untuk urusan dunia kita tetapi selalu menjaga sikap ridho kepada Allah tentang apa dan seberapapun yang di berikan.

Zuhud terhadap apa yang ada ditangan manusia; hindari keinginan untuk memiliki apa lagi sampai meminta-minta sesuatu yang menjadi kepunyaan seseorang; teman, sahabat, saudara dankerabat.

MENJAUHI SIKAP KAGUM PADA DIRI SENDIRI

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa".(Terjemah Al-Qur'an Surat Al-Qashas ayat 83)

Kagum kepada diri sendiri atau yang sering disebut dengan "Ananiyah" berasal dari kata ana artinya 'aku', Ananiyah berarti 'keakuan'. Sifat ananiyah ini biasa disebut egoistis yaitu sikap hidup yang membanggakan diri, kagum pada dirinya sendiri, terlalu mementingkan pribadi, bahkan jika perlu dengan mengorbankan kepentingan orang lain.

Sikap ini adalah sikap hidup yang sangat tercela, karena cenderung berbuat yang dapat merusak tatanan pergaulan dalam kehidupan. Penyakit mental ini dapat diketahui dari sikap seseorang yang selalu mementingkan dan mengutamakan kepentingan dirinya diatas segala-galanya, tanpa mengindahkan kepentingan orang lain.

Sifat Ananiyah yang melahirkan sifat Egosentris, muncul sebagai akibat seseorang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya yang mendorong untuk hidup sombong dan serakah. Hawa Nafsunya yang menjadi kendali dan mendominasi seluruh tindaknnya. Standar kebenaranpun ditentukan oleh kepentingan dirinya, bukan hukum Allah سبحانه و تعالى dan Rasul-Nya Muhammad صلى الله عليه وسلم .

Semoga kita semua terhindar dari hal yang tercela ini...amin.

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Ketika seseorang berjalan dengan sombongnya dan ta'jub kepada dirinya sendiri dan dengan rambut yang disisir, berlagak dalam jalannya maka Allah tiba-tiba membenamkannya ke tanah sehingga turun dan tenggelam sampai hari kiamat."

(HR. Muttafaq 'alaih).
----------------------------------------------------------------------------------
--------semoga bermanfaat--------

Untuk Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~ Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.

"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)

"Bersegeralah kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang (gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga) ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
BERPUASA SUNAH ENAM HARI DI BULAN SYAWAL - MENJAGA JIWA YANG KEMBALI KEPADA FITRAH
 

BERPUASA SUNAH ENAM HARI DI BULAN SYAWAL

Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda yang artinya:

"Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan kemudian disusul dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka puasanya itu bagaikan puasa sepanjang tahun" [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya]

Dari Abu Ayyub ra." Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda: 'Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup'." [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164]

Hal-hal yang berkaitan:

1. Tidak harus dilaksanakan berurutan.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
"Shahabat-shahabat kami berkata: adalah mustahab untuk berpuasa 6 hari Syawal. Dari hadits ini mereka berkata: Sunnah mustahabah melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal, tapi jika seseorang memisahkannya atau menunda pelaksanaannya hingga akhir Syawal, ini juga diperbolehkan, karena dia masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda pendapat mengenai masalah ini dan inilah juga pendapat Ahmad dan Abu Dawud." [Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab]

Berdasarakan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan keutamaan bersegera dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Tidak diwajibkan untuk melaksanakan puasa Syawal secara terus menerus akan tetapi hal itu adalah lebih utama berdasarkan sabda Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم (yang artinya) : "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus dikerjakan walaupun sedikit"

2. Menyempurnakan hutang puasa Ramadhan terlebih dahulu jika selama Ramadhan ada hari-hari yang karena halangan tertentu hingga terkendala tidak berpuasa/jika masih ada yang tertinggal kewajiban puasa dalam bulan Ramadhan.

"Jika seseorang tertinggal beberapa hari dalam Ramadhan, dia harus berpuasa terlebih dahulu, lalu baru boleh melanjutkannya dengan 6 hari puasa Syawal, karena dia tidak bisa melanjutkan puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa Syawal, kecuali dia telah menyempurnakan Ramadhan-nya terlebih dahulu." (dalam kitab Bahjatun Naazhirin (2/385)

Meskipun demikian ada yang berpendapat bagi yang masih mempunyai hutang puasa Ramadhan kemudian langsung mengerjakan puasa enam hari di bulan syawal tetap sah, ini menurut pendapat syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam kitab “Ahaadiitsush shiyaam” hal. 159).

MENJAGA JIWA YANG KEMBALI KEPADA FITRAH

* BAGAI BAYI YANG BARU DILAHIRKAN

...Tempaan pendidikan ramadhan terhadap ruhiyah, fikr dan amal/aktifitas keseharian kita, semoga menjadikan kita semua menjadi manusia baru "BAGAI BAYI"; YANG SETIAP CANDANYA, TUTUR KATANYA, KEJUJURANYA, KEPOLOSANYA menyenangkan hati setiap orang...AMIIN.

Telah diambil sebuah kesimpulan;" sekalipun dosa-dosa kecil tdk boleh diremehkan, jangan sampai dikerjakan.., karena hak dan wewenang untuk mengmpuni dosa HANYA milik Allah".

Kadang kita jumpai seseorang dalam pensikapan terhadap pebuatan-perbuatan buruk tertentu (yang bukan bagian dari dosa-dosa... besar), tidak bersikap sungguh-sungguh untuk menjauhinya...dengan keyakinan bahwa Allah mudah utk mengampun dosa-dosa kecil, hal ini tentu sangat disayangkan :

*** Keyakinan bahwa Allah mudah untuk mengampun dosa-dosa kecil...KEYAKINAN YANG MERUGIKAN:

*Hak utk mengampuni dosa merupakan prerogatif Allah, bisa saja dosa-dosa kecil seseorang tdk diampuni oleh Allah sampai akhir hayatnya, jika seseorang meremehkan tdan tidak bertaubat.

*Dosa-dosa kecil bila teruss dilakukan, akan menjadi "RON" (katrat-karat dosa) di dalam hati seseorang, sehingga hati yang semula fitri,suci akhirnya dipenuhi dgn gumpalan-gumpalan dosa berkarat.

 كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.  QS. Al. Muthofifin:14

*Kemudian karat-karat dosa itu menyebabkan tertutup seluruh celah hati,celah hidayah, akhirnya hatinya tidak bisa tertarik pada indahnya syurga dan tidak ada rasa takut terhadap neraka.

 إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman".

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat".  (QS. Al-Baqarah:6-7).
----------------------------------------------------------------------------------

--------semoga bermanfaat--------

Untuk Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati. ----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~ Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.

"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)

"Bersegeralah kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang (gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga) ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
UKHUWAH ISLAMIYAH

SETIAP BERJUMPA dengan sesama mu'min BERUPAYA KERASLAH untuk merasakan kebaikan-kebaikanya, senang dengan kelebihan-kelebihanya, mampu melupakan secepat mungkin kesalahan-kesalahanya... dan yakinlah bahwa kekuranganya terlalu sedikit, sangaaat kecil.., dibandingkan dengan kelebihan-kelebihanya... dengan pembiasaan ini semoga kita "MEMILIKI BUKTI" di hadapan-Nya sebagai pejuang UKHUWAH ISLAMIYAH sejati...

"Ya Robb kami.., ampunilah dosa-dosa kami dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami PERASAAN TIDAK SUKA (ghil) terhadap orang-orang mu'min..........".

Motivasi Untuk Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dalam Al-Quran

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ*

“Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat ayat 10).

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا، وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ

عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan berpegang teguhlah kalian pada tali Allah (Al-Islam) dan janganlah kalian berpecah belah. Dan ingatlah oleh kalian akan nikmat Allah yang diberikan pada kalian, ketika dahulu kalian saling bermusuhan lalu Allah satukan diantara hati kalian. Dan jadilah kalian atas kenikmatan Allah tersebut menjadi bersaudara…” (QS. Ali Imran ayat 103).

الأَخِلاَّءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ*

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain

kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. 43 : 67).

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ*

“Dan (Allahlah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal : 63).

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ *

“Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah : 2).

Motivasi Untuk Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dalam Hadits-Hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رواهالبخاري)

Dari Qatadah ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.’ (HR. Bukhori).

عَنْ عُمَرِ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلاَ أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لاَ يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلاَ يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ) (رواه أبو داود)

Dari Umar bin Khatab ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم  mengatakan kepadaku, ‘sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah terdapat sekelompok orang yang mereka ini bukan para nabi dan bukan pula orang yang mati syahid, namun posisi mereka di sisi Allah membuat para nabi dan orang yang mati syahid menjadi iri. Para sahabat bertanya, beritahukan kepada kami, siapakah mereka itu ya Rasulullah ? Beliau menjawab, ‘mereka adalah sekelompok orang yang saling mencintai karena Allah سبحانه و تعالى  , meskipun diantara mereka tiada ikatan persaudaraan dan tiada pula kepentingan materi yang memotivasi mereka. Demi Allah, wajah mereka bercahaya, dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak takut manakala manusia takut, dan mereka tidak bersedih hati manakala manusia bersdih hati.’ Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم membacakan ayat ‘Sesungguhnya wali-wali Allah itu, mereka tidak takut dan tidak pula bersedih hati.” (HR. Abu Daud).

عَنْ سَلْمَانِ الْفَارِسِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الْمُسْلَِ إِذَا لَقِيَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فَأَخَذَ بِيَدِهِ تَحَاتَتْ عَنْهُمَا ذُنُوْبُهُمَا كَمَا تَتَحَاتَّ الْوَرَقَةُ عَنِ الشَّجَرَةِ اْليَابِسَةِ فِيْ يَوْمٍ رِيْحٍ عَاصِفٍ، وَإِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا ذُنُوْبُهُمَا وَلَوْ كَانَ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ (رواه الطبراني في المعجم الكبير والبيهقي في شعب الإيمان )

Dari Salman al-Farisi ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Sesungguhnya seorang muslim, apabila ia bertemu dengan saudaranya muslim yang lainnya, kemudian ia menjabat tangannya, maka akan berguguranlah dosa keduanya sebagaimana bergugurannya dedaunan dari sebuah pohon yang telah kering di hari angin bertiup sangat kencang. Atau kalau tidak, dosa keduanya akan diampuni, meskipun sebanyak buih di lautan. (HR. Imam Tabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir VI/ 256, dan Imam Baihaqi dalam syu’ab al-Iman VI/ 437)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ

فِي ظِلِّي يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّي (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra,Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, bahwa Allah berfirman pada hari kiamat. ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku.? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka di hari tiada naungan selain naungan-Ku. (HR. Muslim).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لاَ غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa seorang pemuda mengunjungi saudaranya di kota lain. Di tengah perjalanannya, Allah mengutuskan padanya seorang malaikat (yang menyamar). Ketika malaikat tiba padanya, berkata, ‘Wahai pemuda, engkau hendak kemana?’ Ia menjawab, ‘aku ingin bersilaturahim ke tempat saudaraku di kota ini.’ Malaikat bertanya lagi, ‘Apakah maksud kedatanganmu ada kepentingan duniawi yang ingin kau cari?’ Ia menjawab, ‘Tidak, selain hanya karena aku mencintainya karena Allah سبحانه و تعالى  .’ Kemudian malaikat berkata, ‘sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, diperintahkan untuk menyampaikan kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana kamu mencintai saudaramu tersebut. (HR. Muslim).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ (رواه البخاري)

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘ada tiga hal, yang apabila ketiganya terdapat dalam diri seseorang, maka ia akan dapat merasakan manisnnya iman. (1) Lebih mencintai Allah dan rasul-Nya dari pada apapun selain keduanya. (2) Mencintai seseorang semata-mata hanya karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala. (3) Tidak menyukai kembali pada kekafiran, sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam api neraka. (HR. Bukhari)

…وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِيْ اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ …

…dan dua orang pemuda, yang saling mencintai karena Allah. Mereka bertemu karena Allah dan merekapun berpisah karena Allah SWT… (HR. Muslim)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : المُؤْمِنُ مِرْآةَ أَخِيْهِ إِذَا رَأَى فِيْهَا عَيْبًا أَصْلَحَهُ

(رواه البخاري في الأدب المفرد)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Seorang mu’min merupakan cermin bagi mu’min lainnya, yang apabila ia melihat pada aib pada diri saudaranya, ia memperbaikinya. (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رواه مسلم)

Dari Nu’man bin Basyir ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Perumpamaan orang-orang mu’min dalam hal kecintaan dan kasih sayang diantara mereka adalah laksana satu tubuh, yang apabila terdapat salah satu anggota tubuhnya yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan merasakan sakit, dengan tidak dapat tidur dan demam.’ (HR. Muslim)

عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ وَقَدْ كَانَ أَدْرَكَهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ (رواه أبو داود)

Dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Apabila seorang mu’min mencintai saudaranya sesama mu’min, maka beritahukanlah bahwa ia mencintainya (karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala) (HR. Abu Daud).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلاً كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّ هَذَا فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمْتَهُ قَالَ لاَ قَالَ أَعْلِمْهُ قَالَ فَلَحِقَهُ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ فَقَالَ أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ (رواه أبو داود)

Dari Anas bin Malik ra, bahwa seorang pemuda ada di samping Rasulullah صلى الله عليه وسلم , kemudian tidak lama kemudian, lewatlah seseorang melalui mereka. Kemudian pemuda ini mengatakan, ‘Ya Rasulullah, sungguh aku mencintai orang itu (karena Allah).’ Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya, ‘sudahkah engkau memberitahukan padanya?’ Ia menjawab, ‘belum.’  mengatakan, kalau demikian beritahukalah padanya.’ Lalu pemuda ini mengikuti orang tersebut dan mengatakan padanya, ‘aku mencintaimu karena Allah.’ Orang tersebut menjawab, ‘Semoga Allah mencintaimu seperti engkau mencintaiku karena-Nya.’ (HR. Abu Daud).

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعُمْرَةِ فَأَذِنَ لِي وَقَالَ لاَ تَنْسَنَا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ فَقَالَ كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِي أَنَّ لِي بِهَا الدُّنْيَا (رواه أبو داود)

Dari Umar bin Khattab ra, aku meminta izin kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم  untuk pergi umrah. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengizinka aku dan berkata, ‘jangan lupa wahai saudaraku doanya. Beliau mengucapkan sebuah kalimat yang teramat membahagiakan, seakan aku memiliki dunia. (HR. Abu Daud).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ (رواه مسلم)

Dari Abu Dzar ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan kepadaku, ‘janganlah kalian menganggap remeh satu perbuatan baik sedikitpun, meskipun hanya memberikan senyuman (wajah yang ramah) kepada kepada saudaramu. (HR. Muslim).

عَنْ سَلْمَانِ الْفَارِسِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا لَقِيَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فَأَخَذَ بِيَدِهِ تَحَاتَتْ عَنْهُمَا ذُنُوْبُهُمَا كَمَا تَتَحَاتَّ الْوَرَقَةُ عَنِ الشَّجَرَةِ اْليَابِسَةِ فِيْ يَوْمٍ رِيْحٍ عَاصِفٍ، وَإِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا ذُنُوْبُهُمَا وَلَوْ كَانَ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ (رواه الطبراني في المعجم الكبير والبيهقي في شعب الإيمان )

Dari Salman al-Farisi ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Sesungguhnya seorang muslim, apabila ia bertemu dengan saudaranya muslim yang lainnya, kemudian ia menjabat tangannya, maka akan berguguranlah dosa keduanya sebagaimana bergugurannya dedaunan dari sebuah pohon yang telah kering di hari angin bertiup sangat kencang. Atau kalau tidak, dosa keduanya akan diampuni, meskipun sebanyak buih di lautan. (HR. Imam Tabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir VI/ 256, dan Imam Baihaqi dalam syu’ab al-Iman VI/ 437)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ (رواه أحمد)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, bahwa Allah berfirman, ‘Cinta-Ku wajib diberikan kepada orang yang saling mencintai karena-Ku, kepada yang saling duduk karena-Ku, kepada yang saling mengunjungi (bersilaturahim) karena-Ku, dan yang saling berlomba untuk berkorban karena-Ku.” (HR. Ahmad bin Hambal)

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَقِيَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ بَمَا يُحِبُّ لِيَسَّرَهُ بِذَلِكَ سَرَّهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه الطبراني في المعجم الصغير)

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Barang siapa yang bertemu dengan saudaranya yang muslim dengan sesuatu yang menyenangkannya untuk membahagiakannya, maka sungguh Allah akan membahagiakannya pada hari kiamat. (HR. Tabrani dalam Mu’jam Shaghir, II/288)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَهَادُوْا تَحَابَّوْا

Saling mencintai dan saling memberi hadiahlah kalian (HR. Baihaqi & Tabrani)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Barang siapa yang melapangkan kesempitan dunia seorang mu’min, maka Alla akan melapangkan baginya kesempitan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang mempermudah kesulitan seseorang, maka Allah akan mempermudahnya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutupi sela seorang muslim, maka Allah akan menutupi celanya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selagi hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.

(HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Hak seorang muslim dengan muslim lainnya ada eman. Para sahabat bertanya, ‘Apa itu wahai Rasulullah SAW? Beliau menjwab, ‘apabila engkau bertemu dengannya ucapkanlah salam, apabila ia mengundangmu penuhilah, apabila ia minta nasehat darimu nasehatilah, apabila ia bersin doakanlah, apabila ia sakit tengoklah, dan apabila ia meninggal dunia maka ikutilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ لاَ يَهْتَمْ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ (رواه الطبراني)

Dari Hudzaifah bin Yaman ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barang siapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka bukanlah ia termasuk golongan mereka (kaum muslimin).” (HR. Tabrani)

*** Nabi  صلى الله عليه وسلم , beliau bersabda:

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه

[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyallahu anhu, pelayan Rasulullah صلى الله عليه وسلم , dari Nabi  صلى الله عليه وسلم , beliau bersabda: "Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai dirinya sendiri". (HR. Bukhâri (no. 13), Muslim (no. 45).

Dan Ahmad, Ibnu Hibban, Abu Ya’la mengeluarkan hadits yang semakna dengan lafazh:

لاَ يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ اْلإِيْمَانِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ.
"Seorang hamba tidak dapat mencapai hakikat iman, hingga ia mencintai kebaikan untuk manusia seperti yang ia cintai untuk dirinya."

Nabi  صلى الله عليه وسلم , beliau bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانُ.
"Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh, telah sempurna imannya".

Dari an-Nu’man bin Basyir dari Nabi  صلى الله عليه وسلم , beliau bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

"Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam".

Rasulullah  صلى الله عليه وسلم , beliau bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقْرَؤُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ.

"Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang: orang yang diberi harta oleh Allah kemudian ia menginfakkannya di pertengahan malam dan pertengahan siang dan orang yang diberikan Al-Qur`ân oleh Allah kemudian ia membacanya di pertengahan malam dan pertengahan siang".

*** Seorang muslim tidak boleh membenci orang lain dalam masalah agama. Justru, ia menyukai seluruh orang-orang mu'min terlibat dalam persaingan dalam kelebihan-kelebihan agama. Dan ingat, semua ini harus dilakukan semata-mata karena Allah Ta’ala, jika ada orang yang mengungguli dirinya dalam kelebihan agama, ia berusaha keras mengejarnya, sedih atas kelalaian dirinya, dan gundah atas ketertinggalannya dan berupaya keras menyusul orang-orang yang lebih dahulu dalam kebaikan.

"…Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba".(al-Muthaffifîn/83:26).

*** Seorang mukmin harus terus berupaya keras meraih kedudukan tinggi di hadapan Allah, karena sikap seperti itu membuahkan dua hal yang berharga:
(1) berusaha keras dalam mencari keutamaan-keutamaan dan meningkatkannya, dan (2) ia melihat dirinya sebagai orang yang kurang sempurna.

----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~ Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.

"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)

"Bersegeralah kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang (gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga) ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
BERSEGERA MEMINTA MAAF DAN MUDAH MEMAAFKAN...



--- Sudahkah ridlo Allah سبحانه و تعالى dan syurga-Nya menjadi cita-cita kita..?

--- Bersungguh-sungguhkah kita berupaya meraih kemuliaan hidup di Negeri Akherat..?

--- Jadikan paling tidak karena dua perkara ini menjadi pendorong bagi kita untuk cepat meminta maaf ketika bersalah dan mudah memaafkan orang lain...

MEMINTA MAAF

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

"Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi." (HR. Bukhari no.2449).

MEMBERI MAAF

SETIAP BERJUMPA dengan sesama mu'min BERUPAYA KERASLAH untuk merasakan kebaikan-kebaikanya, senang dengan kelebihan-kelebihanya, mampu melupakan secepat mungkin kesalahan-kesalahanya... dan yakinlah bahwa kekuranganya terlalu sedikit, sangaaat kecil.., dibandingkan dengan kelebihan-kelebihanya... dengan pembiasaan ini semoga kita "TERBIASA UNTUK MUDAH DAN CEPAT MEMAAFKAN ORANG LAIN". "Ya Robb kami.., ampunilah dosa-dosa kami dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami PERASAAN TIDAK SUKA (ghil) terhadap orang-orang mu'min..........".

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
"Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Terjemah A-Quran Surat Al-A'raaf Ayat 42-43).

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
"Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (Terjemah A-Quran Surat Al-A'raaf Ayat 199).

"Allah tidak akan menambah kemaafan seseorang, melainkan dengan kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan dirinya karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya." (Hadist muttafaqun 'alaih).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepada Uqbah bin Amir r.a : " Wahai Uqbah ! maukah engkau ku beritahukan budi pekerti ahli dunia dan akhirat yang paling utama ? yaitu : melakukan shilaturahim (Menghubungkan kekeluargaan dengan orang yang telah memutuskannya), memberi pada orang yang tidak memberimu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu." (dalam Ihya Ulumuddin).

Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan hubungan) dengan saudaranya melebihi tiga malam. Hendaklah mereka bertemu untuk berdialog mengemukakan isi hati dan yang terbaik ialah yang pertama memberi salam (menyapa). (HR. Bukhari).

PEMAAFNYA RASULULLAH MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم

Dalam cuplikan Sejarah Kehidupan Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم dikemukakan tentang perilaku dan ketinggian budi pekerti Beliau. Dalam Perang Uhud Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendapat luka pada muka dan juga patah beberapa buah giginya. berkatalah salah seorang sahabatnya :" Cobalah tuan doakan agar mereka celaka." Rasulullah menjawab :"Aku sekali kali tidak diutus untuk melaknat seseorang, tetapi aku diutus untuk mengajak kepada kebaikan dan sebagai rahmat. Lalu beliau menengadahkan tangannya kepada Allah Yang Maha Mulia dan berdoa :" Allahummaghfir liqoumi fa innahum la ya'lamuun " Ya Allah ampunikah kaumku , karena mereka tidak mengetahui ."

Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak membalas dendam, tetapi justru memaafkan mereka dan kemudian dengan rasa kasih sayang beliau mendoakan agar mereka diberi ampunan oleh Allah سبحانه و تعالى , karena mereka adalah kaum yang belum tahu tujuan ajakan baik yang dilakukan oleh Beliau.

Dikisahkan dalam Perang Khaibar (Perkampungan yahudi), Zainab Binti Al-Harits, istri Salam Bin Misykam, salah seorang pemimpin yahudi berhasil memperoleh hadiah karena dapat membubuhkan racun pada paha kambing panggang yang disajikan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, Beliau makan bersama Bisyr Bin Bara Bin Ma' rur. Bisyr sempat menelan daging beracun itu, tetapi Rasulullah صلى الله عليه وسلم baru sampai mengunyahnya, lalu dimuntahkannya kembali sambil berkata :" Daging ini memberitakan kepadaku bahwa dia beracun." beberapa hari kemudian Bisyr meninggal dunia. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memanggil Wanita yahudi yang terkutuk itu dan bertanya kepadanya :" Mengapa engkau sampai hati melakukan peracunan itu." Wanita itu menjawab :" kiranya tiada tersembunyi hasrat kaumku untuk membunuh tuan, sekiranya tuan seorang raja tentu akan mati karena racun itu dan kami akan merasa senang. tetapi jika tuan seorang nabi, tentu tuan akan diberitahu oleh Allah سبحانه و تعالى bahwa daging itu mengandung racun, nyatanya tuan adalah seorang Nabi."

--- Apa yang dilakukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم terhadap wanita itu, padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم sudah menguasainya ? wanita itu langsung dimaafkan dan dilepaskannya. sekarang apa yang kita lakukan jika hal itu terjadi pada kita ? jangankan masalah yang menyangkut nyawa, terhadap kesalahan-kesalahan yang lebih kecil lebih sering kita SANGAT BERAT untuk memaafkan.........

--- Jika Rasulullah صلى الله عليه وسلم mudah memaafkan orang-orang yang yang sangat berkeinginan membunuh Beliau, menyakiti pada tingkat mengancam keselamatan jiwa......
Lalu mengapa begitu berat kita memaafkan kesalahan orang lain yang tingkat kesalahanya tidak sampai membahayakan keselamatan kita..??? Semoga Allah سبحانه و تعالى melembutkan hati kita semuanya... Amin! Ya Rahmaan....
----------------------------------------------------------------------------------

--------semoga bermanfaat--------

Untuk Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati. ----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~ Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.

"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)

"Bersegeralah kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang (gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga) ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
MENJAUHI PENYAKIT HATI
"HASAD"


BILA seseorang merasa lebih baik dan selalu ingin dilihat selalu LEBIH segala-galanya di bandingkan orang lain, maka ia akan sangat mudah terjangkit penyakit hati yang sangat buruk "HASAD"

Hal ini bisa kita renungkan dari kisah terjangkitnya penyakit hasad yang dialami iblis terhadap Nabi Adam 'alaihi salam...

”Saya (Iblis) lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al A’raf: 12)

Perseteruan itu ada disebabkan Iblis hasad kepada Adam yang telah Allah سبحانه و تعالى muliakan. Akibatnya Allah سبحانه و تعالى mengkutuk Iblis dan menjadikannya musuh anak Adam sampai hari kiamat.

Apa itu Hasad?

Hasad atau dengki adalah sifat seseorang yang tidak suka orang lain lebih darinya atau tidak suka orang lain mendapatkan kenikmatan Allah سبحانه و تعالى baik dengan keinginan kenikmatan tersebut hilang darinya atau tidak, bila disertai perasaan ingin menghancurkan milik orang lain maka ini merupakan hasad tingkat tinggi dan paling jelek, seperti hasadnya Iblis kepada Adam. Sifat hasad ini dapat membuat orang berbuat zhalim, memfitnah, menjatuhkan orang lain yang tidak disukainya.

BAHAYA Hasad diantaranya adalah:

Orang yang memiliki sifat hasad tidak dapat menyempurnakan imannya, sebab ia tidak akan dapat mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Padahal
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ”Tidak sempurna iman salah seorang kalian sampai cinta untuk saudaranya seperti cinta untuk dirinya“. (HR. Bukhari, no.13, Muslim no. 45)

Bahkan lebih dari itu orang yang hasad sangat bahagia dan senang bila saudaranya celaka dan binasa.

Ada dalam sifat hasad ini ketidak sukaan terhadap taqdir yang Allah سبحانه و تعالى berikan kepadanya, sebab siapa yang memberikan nikmat kepada orang lain tersebut? Tentu saja
Allah سبحانه و تعالى. Seakan-akan ia ingin ikut berperan aktif dalam penentuan takdir Allah سبحانه و تعالى dengan merasa bahwa ia lebih pantas mendapatkan nikmat tersebut dari orang lain.

Menyusahkan diri sendiri sebab ia tidak mampu merubah sedikitpun takdir Allah سبحانه و تعالى. Allah telah memberikan nikmat pada orang lain dan tidak akan tercegah dan terhalangi oleh ulah orang yang hasad tersebut. Walaupun ia telah berusaha dengan mencurahkan seluruh kesungguhan dan kemampuannya tidak akan mungkin merubah takdirAllah سبحانه و تعالى yang sudah ditetapkan. Sehingga semua usahanya hanyalah sia-sia belaka.

Setiap orang lain mendapatkan kenikmatan, semakin besar dan kuat api hasad dalam dirinya, sehingga ia selalu penasaran dan duka serta hatinya terbakar api hasad tersebut.

Hasad MEMAKAN DAN MELUMAT kebaikan yang dimilikinya sebagaimana api memakan dan melumat kayu bakar yang kering. Ini yang dinyatakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam sabdanya:”Jauhkanlah (oleh kalian) dengki (hasad) karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud no.4903, di-hasan-kan Ibnu Hajar Al Asqalani di Takhrij Al Misykah 4/450)

Hasad mencegah pemiliknya dari berbuat amal kebaikan dan kemanfaatan. Hal ini karena ia selalu sibuk dengan memikirkan dan melihat milik orang lain sehingga seluruh hidupnya hanya untuk memikirkan bagaimana datangnya kenikmatan pada orang lain dan bagaimana cara menghilangkannya.

Hidupnya tidak pernah tenang dan tentram, apalagi bahagia. Orang yang hasad selalu dalam keadaan gundah gulana dan resah melihat orang lain lebih darinya. Padahal mesti ada orang ;ain yang memiliki kelebihan darinya.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah saling hasad dan berbuat najasy dan janganlah saling bermusuhan serta saling mendiamkan dan jadilah kalian bersaudara“. (HR. Muslim no.2559).

Dari Ibnu Mas'ud r.a. berkata: Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Tidak boleh seorang menginginkan hak orang lain kecuali dua macam yaitu seseorang yang diberi kekayaan harta oleh Allah lalu digunakannya semata-mata untuk memperjuangkan kebenaran dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah lalu digunakan dan diajarkan kepada manusia." (HR. Bukhari - Muslim).

Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Tidak boleh seseorang iri terhadap orang lain kecuali dalam dua hal yaitu seseorang yang diberi pengertian Al Qur'an lalu ia mempergunakannya sebagai pedoman amalnya siang-malam dan seseorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta lalu ia membelanjakannya siang-malam untuk segala amal kebaikan." (HR. Bukhari - Muslim).

!!!Marilah kita tinggalkan HASAD dari diri kita.
----------------------------------------------------------------------------------

--------semoga bermanfaat--------

Untuk Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~ Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.

"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)

"Bersegeralah kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang (gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga) ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
RAMADHAN PENUH BERKAH

RAMADHAN PENUH BERKAH (bag:I)

Kesempurnaan hasil ibadah puasa di Bulan Suci Ramadahan SEMOGA mampu kita raih bersama,
Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم mengajarkan kepada kita dalam melaksanakan puasa di bulan suci ramadhan tidak sekedar menahan diri dari lapar dan dahaga...lebih dari itu...

Orang yang berpuasa hendaknya meninggalkan percecokan karena salah satu tujuan puasa adalah melatih diri untuk menahan amarah, sebagaimana yang tersebut dalam suatu hadits:

الصيام جنة ، فإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب ، فإن امرء سابه أو قاتله فليقل : إني صائم

"Puasa adalah perisai. Jika pada hari dia puasa maka janganlah berkata keji atau kasar. Jika seseorang mencelanya atau menyerangnya, hendaknya ia berkata, ‘Saya sedang puasa’."(HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda yang artinya:

"Berapa banyak orang yang puasa tidak mendapat dari puasanya kecuali lapar dan dahaga".
(HR Nasai dan Ibnu Majah).

puasakan lisan untuk tidak bicara keji dan kotor, tidak bicara ghibah, tidak bicara yang menyakiti...

puasakan diri untuk tidak marah, tidak dengki, tidak bangga diri, tidak merendahkan orang lain...

Puasakan seluruh anggota badan, untuk tidak bermaksiat.

Firman Allah سبحانه و تعالى


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa", (Terjemah Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat:183)

*. Tersebut dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، كَتَبَ الله عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوِابُ الجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ : رواه أحمد والنسائي.

"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa".(H.R. Ahmad dan An Nasa’i).

*. Dari Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرُ بَرَكَةٍ، يَغْشَاكُم الله فِيْهِ، فَيُنَزِّلُ الرَّحْمَةَ، وَيَحُطُّ الخَطَايَا، وَيَسْتَجِيْبُ فِيْهِ الدُّعَاءَ، يَنْظُرُ الله إِلَى تَنَافُسِكُمْ فِيْهِ، وَيُبَاهِي بِكُمْ مَلاَئِكَتَهُ، فَأَرُوْا الله مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا، فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيْهِ رَحْمَةَ الله : رواه الطبراني ورواته ثقات.

"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, mengahapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan Dia membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini". (H.R. Ath Thabrani, dan periwayatnya tsiqah).

*. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:

أُعْطِيَتْ أُمَّتِيْ فِيْ شِهْرِ رَمَضَانَ خَمْسُ خِصَالٍ لَمْ تُعْطَهَا أُمَّةٌ قَبْلَهَا: خَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عَنْدَ الله مِنْ رِيْحِ المِسْكِ، وَتَسْتَغْفِرُ لَهُمْ المَلاَئِكَةُ حَتَّى يُفْطِرُوْا، وَيُزَيِّنُ الله كُلَّ يَوْمٍ جَنَّتَهُ ثُمَّ يَقُوْلُ: يُوْشِكُ عِبَادِيَ الصَّالِحُوْنَ أَنْ يُلْقَوْا عَنْهُم المُؤْنَةَ وَالأَذَى وَيَصِيْرُ إِلَيْكَ، وَتُصْفَدُ فِيْهِ مَرَدَةُ الجِنِّ فَلاَ يَخْلُصُوْنَ فِيْهِ إِلَى مَا كَانُوْا يَخْلُصُوْنَ إِلَيْهِ فِيْ غَيْرُهُ، وَيُغْفَرُ لَهُمْ فِيْ آخِرِ لَيْلَةٍ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ الله أَهِيَ لَيْلَةُ القَدْرِ؟ قَالَ: لاَ، وَلَكِنَّ العَامِلَ إِنَّمَا يُوَفَّى أَجْرُهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُ : رواه أحمد.

"Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wajalla setiap hari menghiasai surganya lalu berfirman (kepada surga): “hampir tiba saatnya para hambaku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu.” Pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada umatku ampunan pada akhir malam.” Beliau ditanya: “Wahai Rasulullah apakah malam itu lailatul Qadar? Jawab beliau: “Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya". (HR. Ahmad).

Lapar dan haus semakin meningkatkan sensitifitas dan kepedulian kepada orang-orang yang kekurangan di sekeliling kita, optimalisasi ibadah menyebabkan kita lebih dekat kepada Allah dan mencintai-Nya.

RAMADHAN PENUH BERKAH (bag:II)

Setelah melaui waktu sepertiga awal di bulan Suci Ramadhan ini, kita berharap semoga bisa menjaga amal-amal shaleh yang sudah kita tunaikan beberapa hari ini hingga Ramadhan usai nanti sejalan dengan upaya selalu mengevaluasi jika karena kesibukan keseharian dan lain-lain, kita merasa belum maksimal beribadah, semoga hari-hari ke depan kita semua lebih bisa mengoptimalkan amal-amal shaleh kita. Dan semoga tausiah singkat ini bisa lebih menambah hamasyah dan jiddiyah, bisa lebih menambah semangat dan kesungguhan kita untuk mengoptimalkan ibadah di bulan penempaan/bulan ramadhan yang sedang kita sama-sama jalani.

قال رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم: ألجنّة مشتاقة لأربعة نفر : تالي القرآن وحافظ اللّسان ويطعم الجيعان وصوم رمضان

Artinya:
Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda: "Surga akan merindukan empat golongan, yakni orang yang gemar membaca Al Qur’an, kedua: golongan orang yang pandai menjaga ucapannya, ketiga: golongan orang yang mau memberikan kepada mereka yang sedang lapar, dan keempat adalah golongan orang-orang yang mau berpuasa Ramadhan”.

Dari hadits di atas tentunya kita menginginkan denan izin Allah سبحانه و تعالى bisa menjadi bagian dari ahli surga maka marilah kita bersegera untuk ambil bagian dari keempat golongan tersebut. Paling tidak jika ada kesempatan melakukan salah satu diantaranya dan akan jauh lebih baik jika kita berupaya sekuat tenaga untuk bisa meraih ke empat keutamaan di atas: ---Tingkakan tilawah Al-Qur'an ---Menjaga lisan dari perkataan ghibah, kotor dan keji, memfitnah, bersumpah palsu, menyakiti orang lain ---Perbanyak bersodakoh ---Bersungguh-sungguh, penuh hikmat dalam melaksanakan seluruh rangkaian ibadah Ramadhan.

RAMADHAN PENUH BERKAH (bag:III)

I'TIKAF DAN BERSUNGGUH SUNGGUH UNTUK MERAIH MALAM LAILATUL QADAR

Kata i'tikaf berasal dari 'akafa alaihi', artinya senantiasa atau berkemauan kuat untuk menetapi sesuatu atau setia kepada sesuatu. Secara harfiah kata i'tikaf berarti tinggal di suatu tempat, sedangkan secara istilah kata i'tikaf berarti tinggal di masjid untuk beberapa hari, teristimewa sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Selama hari-hari itu, seorang yang melakukan i'tikaf mengasingkan diri dari segala urusan duniawi dan menggantinya dengan kesibukan ibadah shalat, membaca Al-Quran dan dzikir kepada Allah dengan sepenuh hati. Dengan i'tikaf seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم
Kita berserah diri kepada Allah سبحانه و تعالى dengan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya, dan bersimpuh di hadapan Allah سبحانه و تعالى untuk mendapat curahan rahmat-Nya.

Yang dilakukan pada saat i'tikaf pada hakikatnya adalah taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah سبحانه و تعالى. Makna taqrrub adalah mendekatkan diri kepada Allah سبحانه و تعالى dengan beragam rangkaian ibadah. Lebih dari itu selama beri'ikaf kita berharap besar untuk mendapat malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam yang dikabulkan doa-doa oleh Allah سبحانه و تعالى

Hamba-hamba Allah سبحانه و تعالى yang ingin memperbaiki, mengubah, dan mengoptimalkan kualitas hidupnya pada penilaian Allah, harus fokus menggiatkan ibadah di sepuluh malam akhir Ramadhan. Ini sesuai dengan kandungan surah Al-Qadar bahwa Lailatul Qadar adalah untuk orang-orang berjiwa unggul dan menginginkan kemuliaan di sisi Rabbnya.

Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانَ شَهْرٌ مَبَارَكٌ اِفْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهَ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَ تُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الجَحِيْمِ وَ تُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرُ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Telah datang kepada kalian Ramadhan,bulan keberkahan.Allah telah mewajibkan kalian shaum di dalamnya. Di bulan itu pintu-pintu surga di buka,pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.Di bulan itu pula terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan (HR an-Nasa’i dan al-Baihaqi).

Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)
----------------------------------------------------------------------------------

--------semoga bermanfaat--------

Untuk Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati. ----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~ Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.

"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)

"Bersegeralah kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang (gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga) ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------