MENCINTAI RASULULLAH-MENJADIKAN BELIAU SEBAGAI IDOLA KITA-DAN MANUSIA YANG PALING KITA CINTAI
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ
"Sesungguhnya
Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta
(pertanggungan jawab...) tentang penghuni-penghuni neraka". (Terjemah
Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 149).
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا
رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ
انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ
فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا
وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
"Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya
beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik
ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia
tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah
akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur". (Terjemah
Al-Quran Surat Al- Imran ayat 144).
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي
رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
"Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (Terjemah Al-Quran Surat Al-Ahzab
ayat 21).
---DI AKHERAT SESEORANG BERSAMA YANG DICINTAI---
Anas
bin Malik Radhiallahu 'anhu mengisahkan, "Ada seseorang yang bertanya
kepada Nabi صلى الله عليه وسلم tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat
datang?" Nabi pun shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Apa yang
telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?" Orang itu menjawab, "Wahai
Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya
saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم." Maka
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun bersabda, "Seseorang (di hari kiamat)
akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau
cintai." Anas pun berkata, "Kami tidak lebih bahagia daripada
mendengarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم, 'Engkau akan bersama orang
yang engkau cintai". Anas kembali berkata, "Aku mencintai Nabi صلى الله
عليه وسلم, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama
mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku
sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari
dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari (X/557 no: 6171) dan at-Tirmidzi
dalam Sunan-nya (2385))
Dari Anas Radhiallahu 'anhu berkata:
Seorang Arab bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, "Bilakah
hari kiamat?" Rasulullah saw menjawab, "Apakah bekalmu untuk
menghadapinya?" Ia menjawabnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka
Rasulullah saw bersabda, "Engkau akan berkumpul dengan orang yang engkau
cintai."(HR. Bukhari - Muslim).
SALAH SATU KISAH KETLDANAN BELIAU
Pernah
terjadi dimasa lalu, setiap kali Rasulullah Muhammad صلى الله عليه
وسلم, berjalan melewati sebuah gang/jalan kecil, saat Beliau sampai di
depan rumah seorang yahudi, orang yahudi tersebut punya kebiasaan unik
yang rutin dilakukan terhadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم , yaitu
meludahi Rasulullah dari depan rumahnya. Ini berlangsung setiap hari
Rasulullah lewat di depan rumahnya. Lalu apa reaksiRasulullah صلى الله
عليه وسلم ? Apakah Beliau membalasnya..? tidak, Beliau hanya tersenyum
kepada orang yang meludahinya, membersihkan ludah yang menempel di badan
atau baju Beliau, dan pergi meninggalkan orang yahudi si peludah ini.
Bagaimana kira-kira jika kejadian rutin yang di alami oleh Rasulullah
صلى الله عليه وسلم dialami oleh kita..? Kira-kira apa yang akan kita
lakukan..?
Sampai pada suatu pagi ketika Rasulullah صلى الله عليه
وسلم lewat di depan rumah orang yahudi "sang peludah", Beliau heran
karena tidak diludahi seperti biasanya. Esok hari Beliau lewat di depan
rumah orang yahudi "sang peludah" lagi, hari berikutnya begitu juga dua,
sampai di hari ketiga tetap tidak ada ludah dari si Yahudi. Rasulullah
صلى الله عليه وسلم pun mencari berita, pergi kemana si Yahudi ini, dan
Beliau mendapat laporan bahwa ternyata dia sedang sakit. Reaksi Beliau
saat mendengar si Yahudi ini sakit adalah langsung mendatangi ke
rumahnya. Sesampainya, betapa kagetnya si Yahudi pemilik rumah bahwa
orang yang selama ini diludahinya, disakiti setiap hari, ternyata adalah
orang pertama kali menjenguknya di saat dia sakit.
Awalnya Si
Yahudi diliputi rasa hawatir bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan
membalas menyakitinya dikarenakan dirinya yang sedang sakit dan lemah
tidak berdaya, tetapi apa yang disangkakannya ternyata keliru.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang untuk menjenguk, bahkan kemudian
Beliau mendoakan Si Yahudi agar sembuh dari penyakitnya. Doa Rasulullah
itu tanpa hijab (penghalang) dan tidak pernah tertolak. Maka tidak lama
kemudian, sembuhlah Si Yahudi ini dari sakitnya. Lalu apa yang terjadi
selanjutnya? Si Yahudi memeluk erat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan
menyatakan ingin masuk Islam. Dia kemudian mengucapkan Syahadat dengan
penuh kesadaran dan tanpa paksaan untuk memeluk agama Islam. Asyhadu
allaa ilaa ha illallaah wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah (saya
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan saya bersaksi
bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah).
Ini benar-benar SANGAT LUAR BIASA, akhlak Rasulullah صلى الله عليه وسلم
tauladan
kita semua, pensikapan terhadap kisah ini, mungkin beberapa orang akan
mengatakan, "Ya jelas saja Beliau itu Nabi dan Rasul..!... Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bisa sabar diludahi orang, kan Beliau itu Nabi..!
Dengan diutus kepada kita seorang Nabi Rasulullah صلى الله عليه وسلم
dari kalangan manusia bukan malaikat, adalah biar tidak akan muncul
sanggahan dari manusia untuk tidak bisa mencontoh Beliau, dengan
berkata-kata seperti di atas...
"Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia
banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab:21).
MENCINTAI RASULULLAH BERARTI MENGIKUTI SUNNAHNYA
Sunnah
Rasulullah : yang berarti segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah
, baik ucapan, perbuatan maupun penetapan beliau kitab “Taujiihun
nazhar ila ushuulil atsar” (1/40), memiliki kedudukan yang sangat agung
dalam Islam, karena Allah menjadikan sunnah Rasulullah sebagai
penjelas dan penjabar dari al-Qur’an yang mulia, yang merupakan sumber
utama syariat Islam. Oleh karena itu, tanpa memahami sunnah Rasulullah
dengan baik, seseorang tidak mungkin dapat menjalankan agama Islam
dengan benar.
Allah berfirman:
وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan
Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka (dari Allah ), supaya mereka
memikirkan” (QS an-Nahl:44).
Ketika Ummul mu’minin ‘Aisyah t
ditanya tentang ahlak (tingkah laku) Rasulullah , beliau menjawab:
“Sungguh akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an”[ HR. Muslim (no. 746)].
Ini berarti bahwa Rasulullah adalah orang yang paling sempurna dalam
memahami dan mengamalkan isi al-Qur’an, menegakkan hukum-hukumnya dan
menghiasi diri dengan adab-adabnya[Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam
kitab “Syarh shahih Muslim” (6/26)]. Maka orang yang paling sempurna
dalam memahami dan mengamalkan sunnah Rasulullah , dialah yang paling
sempurna dalam berpegang teguh dan mengamalkan al-Qur’an dan agama Islam
secara keseluruhan.
Imam Ahmad bin Hambal – semoga Allah
merahmatinya – berkata: “(Termasuk) landasan (utama) sunnah (syariat
Islam) menurut (pandangan) kami (Ahlus sunnah wal jama’ah) adalah: bahwa
sunnah Rasulullah adalah penafsir dan argumentasi (yang menjelaskan
makna) al-Qur’an”[Kitab “Ushuulus sunnah” (hal. 3)].
Oleh karena
itulah, para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah mendefinisikan sunnah
Rasulullah sebagai sesuatu yang mencakup syariat Islam secara
keseluruhan, baik ucapan, perbuatan maupun keyakinan[kitab “Jaami’ul
uluumi wal hikam” (hal. 321)].
Imam Abu Muhammad
al-Barbahari[Hasan bin ‘Ali bin Khalaf al-Barbahari al-Bagdadi (wafat
328 H), biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (15/90)]
berkata: “Ketahuilah, bahwa Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu
dialah Islam, yang masing-masing dari keduanya tidak akan tegak tanpa
ada yang lainnya”[Kitab “Syarhus sunnah” (hal. 59)].
Mengikuti Rasulullah dengan benar sebagai bukti cinta kepada Allah
Allah berfirman:
قُلْ
إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah:
Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah
(sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni
dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali
‘Imran:31).
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini
berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi
setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak
mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah , maka dia adalah orang yang
berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau
mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad dalam
semua ucapan, perbuatan dan keadaannya”[Tafsir Ibnu Katsir (1/477)].
Imam
al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahshubi berkata: “Ketahuilah bahwa barangsiapa yang
mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha
meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap
benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka
orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah adalah jika
terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti)
cinta kepada Rasulullah yang utama adalah (dengan) meneladani beliau ,
mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya,
melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi
diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan
susah maupun senang dan lapang maupun sempit”[ Kitab “asy-Syifa
bita’riifi huquuqil mushthafa” (2/24)].
Berdasarkan keterangan di
atas, jelaslah bahwa mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah yang
sebenarnya adalah dengan meneladani petunjuk dan sunnah beliau , dengan
berusaha mempelajari dan mengamalkannya dengan baik. Dan bukanlah
mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah dengan melakukan
perbuatan-perbuatan bid’ah[10] dengan mengatasnamakan cinta kepada
beliau , atau memuji dan mensifati beliau secara berlebihan, dengan
menempatkan beliau melebihi kedudukan yang telah Allah tempatkan
beliau padanya[kitab “Mahabbatur Rasul bainal ittibaa’ wal ibtidaa’”
(hal. 65-71)].
Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda:
“Janganlah kalian memuji diriku secara berlebihan dan melampaui batas,
sebagaimana orang-orang nasrani melampaui batas dalam memuji (Nabi Isa)
bin Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka
katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya”[HSR al-Bukhari (no. 3261)].
Inilah
makna cinta kepada Rasulullah yang dipahami dan diamalkan oleh
generasi terbaik umat ini, para sahabat y. Anas bin Malik t berkata:
“Tidak ada seorangpun yang paling dicintai oleh para sahabat Rasulullah
melebihi beliau , akan tetapi jika mereka melihat beliau , mereka tidak
berdiri (untuk menghormati beliau ), karena mereka mengetahui bahwa
Rasulullah membenci perbuatan tersebut”[HR at-Tirmidzi (5/90) dan Ahmad
(3/132), dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani].
Bagaimana menyempurnakan cinta kepada sunnah Nabi dalam diri kita?
Imam
Ibnu Rajab al-Hambali membagi derajat (tingakatan) cinta kepada
Rasulullah menjadi dua tingakatan, yang berarti dengan menyempurnakan
dua tingkatan ini seorang akan memiliki kecintaan yang sempurna kepada
sunnah Rasulullah , yang ini merupakan tanda kesempurnaan iman dalam
dirinya.
Dua tingkatan tersebut adalah:
1- Tingkatan yang
fardhu (wajib), yaitu kecintaan (kepada Rasulullah ) yang mengandung
konsekwensi menerima dan mengambil semua petunjuk yang dibawa oleh
Rasulullah dari sisi Allah dengan (penuh rasa) cinta, ridha, hormat dan
patuh, serta tidak mencari petunjuk dari selain jalan (sunnah) beliau
secara utuh. Kemudian mengikuti dengan baik agama yang beliau sampaikan
dari Allah, dengan membenarkan semua berita yang beliau sampaikan,
mantaati semua kewajiban yang beliau perintahkan, maninggalkan semua
perbuatan haram yang dilarangnya, serta menolong dan berjihad (membela)
agamanya, sesuai dengan kemampuan unutk (mengahadapi) orang-orang yang
menentangnya. Tingkatan ini harus dipenuhi (oleh setiap muslim) dan
tanpanya keimanan (seseorang) tidak akan sempurna.
2- Tingkatan
fadhl (keutamaan/kemuliaan), yaitu kecintaan (kepada Rasulullah ) yang
mengandung konsekwensi meneladani beliau dengan baik, mengikuti sunnah
beliau dengan benar, dalam tingkah laku, adab (etika), ibadah-ibadah
sunnah (anjuran), makan, minum, pakaian, pergaulan yang baik dengan
keluarga, serta semua adab beliau yang sempurna dan akhlak beliau yang
suci. Demikian juga memberikan perhatian (besar) untuk memahami sejarah
dan perjalanan hidup beliau , rasa senang dalam hati dengan mencintai,
mengagungkan dan memuliakan beliau , senang mendengarkan ucapan (hadits)
beliau , dan selalu (mendahulukan) ucapan beliau di atas ucapan selain
beliau. Dan termasuk yang paling utama dalam tingkatan ini adalah
meneladani beliau sikap zuhud beliau terhadap dunia, mencukupkan diri
dengan hidup seadanya (sederhana) di dunia, dan kecintaan beliau kepada
(balasan yang sempurna) di akhirat (kelak)”[ Kitab “Istinyaaqu nasiimil
unsi min nafahaati riyaadhil qudsi” (hal. 34-35].
Keutamaan mengikuti sunnah Rasulullah
Allah berfirman:
{لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو
اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzaab:21).
Ayat
yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti
sunnah Rasulullah , karena Allah sendiri yang menamakan semua perbuatan
Rasulullah sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa
orang yang meneladani sunnah Rasulullah berarti dia telah menempuh
ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya
mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah.
Ketika menafsirkan ayat
ini, imam Ibnu Katsir berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan landasan
yang agung dalam meneladani Rasulullah dalam semua ucapan, perbuatan
dan keadaan beliau “[Tafsir Ibnu Katsir (3/626).].
Kemudian
firman Allah di akhir ayat ini mengisyaratkan satu faidah yang penting
untuk direnungkan, yaitu keterikatan antara meneladani sunnah
Rasulullah dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir, yang
ini berarti bahwa semangat dan kesungguhan seorang muslim untuk
meneladani sunnah Rasulullah merupakan pertanda kesempurnaan imannya.
Syaikh
Abdurrahman as-Sa’di ketika menjelaskan makna ayat di atas berkata:
“Teladan yang baik (pada diri Rasulullah ) ini, yang akan mendapatkan
taufik (dari Allah ) untuk mengikutinya hanyalah orang-orang yang
mengharapkan (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan) di hari akhir. Karena
(kesempurnaan) iman, ketakutan pada Allah, serta pengharapan balasan
kebaikan dan ketakutan akan siksaan Allah, inilah yang memotivasi
seseorang untuk meneladani (sunnah) Rasulullah “[Kitab “Taisiirul
Kariimir Rahmaan” (hal. 481].
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~
Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan
sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita
untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.
"Bersegeralah
beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam
yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu
sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia
menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)
"Bersegeralah
kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya
berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang
(gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga)
ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu
sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu
sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang
yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim
no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
MENJADI PRIBADI YANG MENYENANGKANKITA
SEMUA tentu sangat menginginkan orang-orang yang terdekat dengan kita,
anak-anak, keluarga, kaum kerabat, bahkan tetangga dan segenap manusia
menjadi orang-orang yang baik yang setia mengabdi kepada Allah سبحانه و
تعالى . Rasa tanggung jawab dan keinginan yang besar untuk melihat semua
orang beragama secara benar membuat kita terdorong untuk terjun
langsung memperjuangkanya... Dan besarnya harapan terhadap pencapaian
keberhasilan sebuah perjuangan ini, semakin mendorong untuk lebih
melengkapi pada diri kita masing-masing "persyaratan" agar kita di
terima oleh anak-anak kita.., diterima oleh semua orang sebagai
komunikator kebaikan dan kebenaran. ---- Salah satu bukti nyata bahwa
kita berkeinginan besar melihat orang lain berubah menjadi lebih baik
adalah kesungguhan kita membangun "KUALITAS DIRI"----
KUALITAS
DIRI menjadi syarat utama sejauh mana TINGKAT DITERIMANYA diri kita oleh
fihak lain, dan untuk ini kita sangat membutuhkan capaian maksimal
ber-akhlaq karimah.
"Barangsiapa yang diserahi amanat untuk
mengurus kebutuhan umat, namun ia lalai atau tidak memperdulikan
kebutuhan, kepentingan dan keterdesakan mereka, maka Allah سبحانه و
تعالى. akan memperlakukannya sama dengan tidak akan memperdulikan
kebutuhan, kepentingan dan keterdesakannya di akherat kelak". (HR.
Tirmidzi dan Abu Dawud).
----------------------------------------------------------------------------------
~~~ Rendah Hati Dan Lemah Lembut...
Setiap
diri kita diberikan kelabihan-kelebihan tertentu yang berbeda-beda satu
dengan yang lainya oleh Allah سبحانه و تعالى , jaga wajah ceria dan
tidak bersikap angkuh, berendah hatilah, bersikap tawadlulah dengan
kelebihan-kelebihan tertentu yang telah Allah سبحانه و تعالى anugerahkan
maka niscaya fihak lain akan lebih nyaman, LEBIH SUKA berdekatan dan
bergaul dengan kita dibandingkan dengan apabila kita bersikap
sebaliknya...
"Tak mungkin kalian dapat memberikan kelonggaran
kepada seluruh manusia dengan harta kalian,akan tetapi kalian dapat
memberikan keluasan kepada mereka dengan wajah cerah dan akhlak yang
terpuji". (HR. Abu Ya'la dan Al-Bazzar)
"Maka disebabkan rahmat
dari Allah lah kamu(Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka.
Seandainya kamu bersikap keras lagi kasar, tentu mereka akan menjauhkan
diri dari sekelilingmu." (Terjemah Al-Quran Surat Al-'Imran Ayat 159).
Allah
Ta’ala berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang
lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Terjemah Al-Quran An-Nahl Ayat
125).
Allah Ta’ala berfirman: “Maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”. ((Terjemah Al-Quran Surat Al-Isra’ Ayat 28).
Allah
Ta’ala berfirman: "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku; hendaklah
mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik". (Terjemah Al-Quran Surat
Al-Isra’ Ayat 53).
Aisyah radhiallahu anha pernah mengabarkan
kepadanya, bahwa ada seorang laki-laki minta izin untuk menemui Nabi
shallallahu alaihi wasallam, maka Nabi berkata: "Izinkanlah ia, sungguh
ia adalah sejelek-jelek anak di kaum (kabilah)-nya", atau Beliau صلى
الله عليه وسلم berkata: “Ia adalah sejelek-jelek orang di kaum
(kabilah)-nya”. Maka tatkala orang itu masuk, Nabi Rasulullah صلى الله
عليه وسلم pun berbicara padanya dengan lemah lembut. Aku (Aisyah) pun
berkata keada beliau: “Ya Rasulullah, engkau telah mengatakan apa yang
barusan engkau katakan , kemudian engkau berbicara padanya dengan lemah
lembut?”. Rasulullahصلى الله عليه وسلم menjawab: “Wahai Aisyah,
sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah adalah
orang yang ditinggalkan dan dijauhi masyarakat untuk menghindari
kejelekannya“.(HR. Bukhari no. 5780 dan Muslim no. 2591).
----------------------------------------------------------------------------------
~~~ Berlaku zuhud dalam hidup...
"Diterangkan dari Abul Abas Sahl bin Sa'ad as-Sa'idi, ra. ia berkata,
Ada
seorang laki-laki datang kepada Nabi صلى الله عليه وسلم lalu berkata:
"Wahai Rasulullah, tunjukan kepadaku suatu amal yang apabila aku amalkan
Allah dan manusia akan mencintaiku." Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم
bersabda: "Zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia maka Allah akan
mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia maka
manusia pun akan mencintaimu". (HR. Ibnu Majah-Hasan).
Zuhud
terhadap terhadap apa yang di dunia; bekerja keras untuk urusan dunia
kita tetapi selalu menjaga sikap ridho kepada Allah tentang apa dan
seberapapun yang di berikan.
Zuhud terhadap apa yang ada ditangan
manusia; hindari keinginan untuk memiliki apa lagi sampai meminta-minta
sesuatu yang menjadi kepunyaan seseorang; teman, sahabat, saudara
dankerabat.
MENJAUHI SIKAP KAGUM PADA DIRI SENDIRI
تِلْكَ
الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي
الْأَرْضِ وَلَا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Negeri
akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin
menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan
(yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa".(Terjemah
Al-Qur'an Surat Al-Qashas ayat 83)
Kagum kepada diri sendiri atau
yang sering disebut dengan "Ananiyah" berasal dari kata ana artinya
'aku', Ananiyah berarti 'keakuan'. Sifat ananiyah ini biasa disebut
egoistis yaitu sikap hidup yang membanggakan diri, kagum pada dirinya
sendiri, terlalu mementingkan pribadi, bahkan jika perlu dengan
mengorbankan kepentingan orang lain.
Sikap ini adalah sikap hidup
yang sangat tercela, karena cenderung berbuat yang dapat merusak
tatanan pergaulan dalam kehidupan. Penyakit mental ini dapat diketahui
dari sikap seseorang yang selalu mementingkan dan mengutamakan
kepentingan dirinya diatas segala-galanya, tanpa mengindahkan
kepentingan orang lain.
Sifat Ananiyah yang melahirkan sifat
Egosentris, muncul sebagai akibat seseorang tidak mampu mengendalikan
hawa nafsunya yang mendorong untuk hidup sombong dan serakah. Hawa
Nafsunya yang menjadi kendali dan mendominasi seluruh tindaknnya.
Standar kebenaranpun ditentukan oleh kepentingan dirinya, bukan hukum
Allah سبحانه و تعالى dan Rasul-Nya Muhammad صلى الله عليه وسلم .
Semoga kita semua terhindar dari hal yang tercela ini...amin.
Abu
Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم
bersabda, "Ketika seseorang berjalan dengan sombongnya dan ta'jub kepada
dirinya sendiri dan dengan rambut yang disisir, berlagak dalam jalannya
maka Allah tiba-tiba membenamkannya ke tanah sehingga turun dan
tenggelam sampai hari kiamat."
(HR. Muttafaq 'alaih).
----------------------------------------------------------------------------------
--------semoga bermanfaat--------
Untuk Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~
Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan
sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita
untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.
"Bersegeralah
beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam
yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu
sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia
menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)
"Bersegeralah
kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya
berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang
(gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga)
ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu
sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu
sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang
yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim
no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
BERPUASA SUNAH ENAM HARI DI BULAN SYAWAL - MENJAGA JIWA YANG KEMBALI KEPADA FITRAH
BERPUASA SUNAH ENAM HARI DI BULAN SYAWAL
Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda yang artinya:
"Barangsiapa
berpuasa di bulan Ramadhan kemudian disusul dengan puasa enam hari di
bulan Syawal maka puasanya itu bagaikan puasa sepanjang tahun"
[Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya]
Dari Abu
Ayyub ra." Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda: 'Siapa yang
berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka
itulah puasa seumur hidup'." [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu
Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164]
Hal-hal yang berkaitan:
1. Tidak harus dilaksanakan berurutan.
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
"Shahabat-shahabat
kami berkata: adalah mustahab untuk berpuasa 6 hari Syawal. Dari hadits
ini mereka berkata: Sunnah mustahabah melakukannya secara berurutan
pada awal-awal Syawal, tapi jika seseorang memisahkannya atau menunda
pelaksanaannya hingga akhir Syawal, ini juga diperbolehkan, karena dia
masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda
pendapat mengenai masalah ini dan inilah juga pendapat Ahmad dan Abu
Dawud." [Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab]
Berdasarakan dalil-dalil
dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan keutamaan bersegera dan
berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Tidak diwajibkan untuk
melaksanakan puasa Syawal secara terus menerus akan tetapi hal itu
adalah lebih utama berdasarkan sabda Rasulullah Muhammad صلى الله عليه
وسلم (yang artinya) : "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang
terus menerus dikerjakan walaupun sedikit"
2. Menyempurnakan
hutang puasa Ramadhan terlebih dahulu jika selama Ramadhan ada hari-hari
yang karena halangan tertentu hingga terkendala tidak berpuasa/jika
masih ada yang tertinggal kewajiban puasa dalam bulan Ramadhan.
"Jika
seseorang tertinggal beberapa hari dalam Ramadhan, dia harus berpuasa
terlebih dahulu, lalu baru boleh melanjutkannya dengan 6 hari puasa
Syawal, karena dia tidak bisa melanjutkan puasa Ramadhan dengan 6 hari
puasa Syawal, kecuali dia telah menyempurnakan Ramadhan-nya terlebih
dahulu." (dalam kitab Bahjatun Naazhirin (2/385)
Meskipun
demikian ada yang berpendapat bagi yang masih mempunyai hutang puasa
Ramadhan kemudian langsung mengerjakan puasa enam hari di bulan syawal
tetap sah, ini menurut pendapat syaikh Abdullah Al-Fauzan dalam kitab
“Ahaadiitsush shiyaam” hal. 159).
MENJAGA JIWA YANG KEMBALI KEPADA FITRAH
* BAGAI BAYI YANG BARU DILAHIRKAN
...Tempaan
pendidikan ramadhan terhadap ruhiyah, fikr dan amal/aktifitas
keseharian kita, semoga menjadikan kita semua menjadi manusia baru
"BAGAI BAYI"; YANG SETIAP CANDANYA, TUTUR KATANYA, KEJUJURANYA,
KEPOLOSANYA menyenangkan hati setiap orang...AMIIN.
Telah diambil
sebuah kesimpulan;" sekalipun dosa-dosa kecil tdk boleh diremehkan,
jangan sampai dikerjakan.., karena hak dan wewenang untuk mengmpuni dosa
HANYA milik Allah".
Kadang kita jumpai seseorang dalam
pensikapan terhadap pebuatan-perbuatan buruk tertentu (yang bukan bagian
dari dosa-dosa... besar), tidak bersikap sungguh-sungguh untuk
menjauhinya...dengan keyakinan bahwa Allah mudah utk mengampun dosa-dosa
kecil, hal ini tentu sangat disayangkan :
*** Keyakinan bahwa Allah mudah untuk mengampun dosa-dosa kecil...KEYAKINAN YANG MERUGIKAN:
*Hak
utk mengampuni dosa merupakan prerogatif Allah, bisa saja dosa-dosa
kecil seseorang tdk diampuni oleh Allah sampai akhir hayatnya, jika
seseorang meremehkan tdan tidak bertaubat.
*Dosa-dosa kecil bila
teruss dilakukan, akan menjadi "RON" (katrat-karat dosa) di dalam hati
seseorang, sehingga hati yang semula fitri,suci akhirnya dipenuhi dgn
gumpalan-gumpalan dosa berkarat.
كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. QS. Al. Muthofifin:14
*Kemudian
karat-karat dosa itu menyebabkan tertutup seluruh celah hati,celah
hidayah, akhirnya hatinya tidak bisa tertarik pada indahnya syurga dan
tidak ada rasa takut terhadap neraka.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
"Sesungguhnya
orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau
tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman".
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Allah
telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka
ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat". (QS. Al-Baqarah:6-7).
----------------------------------------------------------------------------------
--------semoga bermanfaat--------
Untuk
Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati.
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~
Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan
sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita
untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.
"Bersegeralah
beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam
yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu
sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia
menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)
"Bersegeralah
kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya
berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang
(gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga)
ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu
sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu
sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang
yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim
no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
UKHUWAH ISLAMIYAH
SETIAP
BERJUMPA dengan sesama mu'min BERUPAYA KERASLAH untuk merasakan
kebaikan-kebaikanya, senang dengan kelebihan-kelebihanya, mampu
melupakan secepat mungkin kesalahan-kesalahanya... dan yakinlah bahwa
kekuranganya terlalu sedikit, sangaaat kecil.., dibandingkan dengan
kelebihan-kelebihanya... dengan pembiasaan ini semoga kita "MEMILIKI
BUKTI" di hadapan-Nya sebagai pejuang UKHUWAH ISLAMIYAH sejati...
"Ya
Robb kami.., ampunilah dosa-dosa kami dan janganlah Engkau jadikan di
dalam hati kami PERASAAN TIDAK SUKA (ghil) terhadap orang-orang
mu'min..........".
Motivasi Untuk Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dalam Al-Quran
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ*
“Sesungguhnya
orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara
kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat
rahmat.” (QS. Al-Hujurat ayat 10).
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا، وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ
عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan
berpegang teguhlah kalian pada tali Allah (Al-Islam) dan janganlah
kalian berpecah belah. Dan ingatlah oleh kalian akan nikmat Allah yang
diberikan pada kalian, ketika dahulu kalian saling bermusuhan lalu Allah
satukan diantara hati kalian. Dan jadilah kalian atas kenikmatan Allah
tersebut menjadi bersaudara…” (QS. Ali Imran ayat 103).
الأَخِلاَّءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ*
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain
kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. 43 : 67).
وَأَلَّفَ
بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا مَا
أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ*
“Dan (Allahlah) Yang mempersatukan hati
mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua
(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan
hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal : 63).
وَتَعَاوَنُوا
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ
وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ *
“Dan
tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah
kalian saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS.
Al-Maidah : 2).
Motivasi Untuk Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dalam Hadits-Hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم
عَنْ
أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
(رواهالبخاري)
Dari Qatadah ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم
bersabda, ‘Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga ia
mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.’ (HR.
Bukhori).
عَنْ عُمَرِ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لأُنَاسًا
مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ
وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى
قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ قَوْمٌ
تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلاَ
أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ
وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لاَ يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلاَ
يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (أَلاَ إِنَّ
أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ) (رواه
أبو داود)
Dari Umar bin Khatab ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم
mengatakan kepadaku, ‘sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah terdapat
sekelompok orang yang mereka ini bukan para nabi dan bukan pula orang
yang mati syahid, namun posisi mereka di sisi Allah membuat para nabi
dan orang yang mati syahid menjadi iri. Para sahabat bertanya,
beritahukan kepada kami, siapakah mereka itu ya Rasulullah ? Beliau
menjawab, ‘mereka adalah sekelompok orang yang saling mencintai karena
Allah سبحانه و تعالى , meskipun diantara mereka tiada ikatan
persaudaraan dan tiada pula kepentingan materi yang memotivasi mereka.
Demi Allah, wajah mereka bercahaya, dan mereka berada di atas cahaya.
Mereka tidak takut manakala manusia takut, dan mereka tidak bersedih
hati manakala manusia bersdih hati.’ Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم
membacakan ayat ‘Sesungguhnya wali-wali Allah itu, mereka tidak takut
dan tidak pula bersedih hati.” (HR. Abu Daud).
عَنْ سَلْمَانِ
الْفَارِسِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الْمُسْلَِ إِذَا لَقِيَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
فَأَخَذَ بِيَدِهِ تَحَاتَتْ عَنْهُمَا ذُنُوْبُهُمَا كَمَا تَتَحَاتَّ
الْوَرَقَةُ عَنِ الشَّجَرَةِ اْليَابِسَةِ فِيْ يَوْمٍ رِيْحٍ عَاصِفٍ،
وَإِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا ذُنُوْبُهُمَا وَلَوْ كَانَ مِثْلَ زَبَدِ
الْبَحْرِ (رواه الطبراني في المعجم الكبير والبيهقي في شعب الإيمان )
Dari
Salman al-Farisi ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
‘Sesungguhnya seorang muslim, apabila ia bertemu dengan saudaranya
muslim yang lainnya, kemudian ia menjabat tangannya, maka akan
berguguranlah dosa keduanya sebagaimana bergugurannya dedaunan dari
sebuah pohon yang telah kering di hari angin bertiup sangat kencang.
Atau kalau tidak, dosa keduanya akan diampuni, meskipun sebanyak buih di
lautan. (HR. Imam Tabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir VI/ 256, dan Imam
Baihaqi dalam syu’ab al-Iman VI/ 437)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ
يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِي الْيَوْمَ
أُظِلُّهُمْ
فِي ظِلِّي يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّي (رواه مسلم)
Dari
Abu Hurairah ra,Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, bahwa Allah
berfirman pada hari kiamat. ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai
karena keagungan-Ku.? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka di hari
tiada naungan selain naungan-Ku. (HR. Muslim).
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ
رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ
عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ
قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ
مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لاَ غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ
اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ (رواه مسلم)
Dari
Abu Hurairah ra, bahwa seorang pemuda mengunjungi saudaranya di kota
lain. Di tengah perjalanannya, Allah mengutuskan padanya seorang
malaikat (yang menyamar). Ketika malaikat tiba padanya, berkata, ‘Wahai
pemuda, engkau hendak kemana?’ Ia menjawab, ‘aku ingin bersilaturahim ke
tempat saudaraku di kota ini.’ Malaikat bertanya lagi, ‘Apakah maksud
kedatanganmu ada kepentingan duniawi yang ingin kau cari?’ Ia menjawab,
‘Tidak, selain hanya karena aku mencintainya karena Allah سبحانه و
تعالى .’ Kemudian malaikat berkata, ‘sesungguhnya aku adalah utusan
Allah kepadamu, diperintahkan untuk menyampaikan kepadamu bahwa Allah
telah mencintaimu, sebagaimana kamu mencintai saudaramu tersebut. (HR.
Muslim).
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ
فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ
يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ
كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ (رواه البخاري)
Dari
Anas bin Malik ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘ada tiga
hal, yang apabila ketiganya terdapat dalam diri seseorang, maka ia akan
dapat merasakan manisnnya iman. (1) Lebih mencintai Allah dan rasul-Nya
dari pada apapun selain keduanya. (2) Mencintai seseorang semata-mata
hanya karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala. (3) Tidak menyukai kembali pada
kekafiran, sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam api neraka.
(HR. Bukhari)
…وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِيْ اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ …
…dan
dua orang pemuda, yang saling mencintai karena Allah. Mereka bertemu
karena Allah dan merekapun berpisah karena Allah SWT… (HR. Muslim)
عَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : المُؤْمِنُ مِرْآةَ أَخِيْهِ إِذَا رَأَى فِيْهَا
عَيْبًا أَصْلَحَهُ
(رواه البخاري في الأدب المفرد)
Dari Abu
Hurairah ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Seorang mu’min
merupakan cermin bagi mu’min lainnya, yang apabila ia melihat pada aib
pada diri saudaranya, ia memperbaikinya. (HR. Bukhari dalam Al-Adab
Al-Mufrad)
عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي
تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا
اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ
وَالْحُمَّى (رواه مسلم)
Dari Nu’man bin Basyir ra, Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda, ‘Perumpamaan orang-orang mu’min dalam hal
kecintaan dan kasih sayang diantara mereka adalah laksana satu tubuh,
yang apabila terdapat salah satu anggota tubuhnya yang sakit, maka
seluruh tubuhnya akan merasakan sakit, dengan tidak dapat tidur dan
demam.’ (HR. Muslim)
عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ وَقَدْ
كَانَ أَدْرَكَهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ
(رواه أبو داود)
Dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib, Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda, ‘Apabila seorang mu’min mencintai saudaranya
sesama mu’min, maka beritahukanlah bahwa ia mencintainya (karena Allah
Subhanahu Wa Ta'ala) (HR. Abu Daud).
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ رَجُلاً كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّ هَذَا
فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمْتَهُ
قَالَ لاَ قَالَ أَعْلِمْهُ قَالَ فَلَحِقَهُ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّكَ فِي
اللَّهِ فَقَالَ أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ (رواه أبو داود)
Dari
Anas bin Malik ra, bahwa seorang pemuda ada di samping Rasulullah صلى
الله عليه وسلم , kemudian tidak lama kemudian, lewatlah seseorang
melalui mereka. Kemudian pemuda ini mengatakan, ‘Ya Rasulullah, sungguh
aku mencintai orang itu (karena Allah).’ Kemudian Rasulullah صلى الله
عليه وسلم bertanya, ‘sudahkah engkau memberitahukan padanya?’ Ia
menjawab, ‘belum.’ mengatakan, kalau demikian beritahukalah padanya.’
Lalu pemuda ini mengikuti orang tersebut dan mengatakan padanya, ‘aku
mencintaimu karena Allah.’ Orang tersebut menjawab, ‘Semoga Allah
mencintaimu seperti engkau mencintaiku karena-Nya.’ (HR. Abu Daud).
عَنْ
عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعُمْرَةِ فَأَذِنَ لِي وَقَالَ لاَ
تَنْسَنَا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ فَقَالَ كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِي
أَنَّ لِي بِهَا الدُّنْيَا (رواه أبو داود)
Dari Umar bin Khattab
ra, aku meminta izin kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk pergi
umrah. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengizinka aku dan
berkata, ‘jangan lupa wahai saudaraku doanya. Beliau mengucapkan sebuah
kalimat yang teramat membahagiakan, seakan aku memiliki dunia. (HR. Abu
Daud).
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ
قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَحْقِرَنَّ
مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
(رواه مسلم)
Dari Abu Dzar ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم
mengatakan kepadaku, ‘janganlah kalian menganggap remeh satu perbuatan
baik sedikitpun, meskipun hanya memberikan senyuman (wajah yang ramah)
kepada kepada saudaramu. (HR. Muslim).
عَنْ سَلْمَانِ
الْفَارِسِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا لَقِيَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
فَأَخَذَ بِيَدِهِ تَحَاتَتْ عَنْهُمَا ذُنُوْبُهُمَا كَمَا تَتَحَاتَّ
الْوَرَقَةُ عَنِ الشَّجَرَةِ اْليَابِسَةِ فِيْ يَوْمٍ رِيْحٍ عَاصِفٍ،
وَإِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا ذُنُوْبُهُمَا وَلَوْ كَانَ مِثْلَ زَبَدِ
الْبَحْرِ (رواه الطبراني في المعجم الكبير والبيهقي في شعب الإيمان )
Dari
Salman al-Farisi ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
‘Sesungguhnya seorang muslim, apabila ia bertemu dengan saudaranya
muslim yang lainnya, kemudian ia menjabat tangannya, maka akan
berguguranlah dosa keduanya sebagaimana bergugurannya dedaunan dari
sebuah pohon yang telah kering di hari angin bertiup sangat kencang.
Atau kalau tidak, dosa keduanya akan diampuni, meskipun sebanyak buih di
lautan. (HR. Imam Tabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir VI/ 256, dan Imam
Baihaqi dalam syu’ab al-Iman VI/ 437)
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ
وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ (رواه أحمد)
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda, bahwa Allah berfirman, ‘Cinta-Ku wajib
diberikan kepada orang yang saling mencintai karena-Ku, kepada yang
saling duduk karena-Ku, kepada yang saling mengunjungi (bersilaturahim)
karena-Ku, dan yang saling berlomba untuk berkorban karena-Ku.” (HR.
Ahmad bin Hambal)
عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَقِيَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
بَمَا يُحِبُّ لِيَسَّرَهُ بِذَلِكَ سَرَّهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
(رواه الطبراني في المعجم الصغير)
Dari Anas bin Malik ra,
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Barang siapa yang bertemu
dengan saudaranya yang muslim dengan sesuatu yang menyenangkannya untuk
membahagiakannya, maka sungguh Allah akan membahagiakannya pada hari
kiamat. (HR. Tabrani dalam Mu’jam Shaghir, II/288)
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَهَادُوْا تَحَابَّوْا
Saling mencintai dan saling memberi hadiahlah kalian (HR. Baihaqi & Tabrani)
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا
نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ
يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا
وَاْلآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا
وَاْلآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي
عَوْنِ أَخِيهِ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda, ‘Barang siapa yang melapangkan kesempitan dunia
seorang mu’min, maka Alla akan melapangkan baginya kesempitan pada hari
kiamat. Dan barang siapa yang mempermudah kesulitan seseorang, maka
Allah akan mempermudahnya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Barang
siapa yang menutupi sela seorang muslim, maka Allah akan menutupi
celanya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong
hamba-Nya, selagi hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.
(HR. Muslim)
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا
هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ
وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا
عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا
مَاتَ فَاتَّبِعْهُ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Hak seorang muslim dengan muslim lainnya
ada eman. Para sahabat bertanya, ‘Apa itu wahai Rasulullah SAW? Beliau
menjwab, ‘apabila engkau bertemu dengannya ucapkanlah salam, apabila ia
mengundangmu penuhilah, apabila ia minta nasehat darimu nasehatilah,
apabila ia bersin doakanlah, apabila ia sakit tengoklah, dan apabila ia
meninggal dunia maka ikutilah jenazahnya.” (HR. Muslim)
عَنْ
حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ لاَ يَهْتَمْ بِأَمْرِ
الْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ (رواه الطبراني)
Dari Hudzaifah
bin Yaman ra, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barang siapa yang
tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka bukanlah ia termasuk
golongan mereka (kaum muslimin).” (HR. Tabrani)
*** Nabi صلى الله عليه وسلم , beliau bersabda:
عَنْ
أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ
لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه
[رواه البخاري ومسلم]
Dari
Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyallahu anhu, pelayan Rasulullah صلى
الله عليه وسلم , dari Nabi صلى الله عليه وسلم , beliau bersabda: "Tidak
beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya
(sesama muslim) seperti ia mencintai dirinya sendiri". (HR. Bukhâri (no.
13), Muslim (no. 45).
Dan Ahmad, Ibnu Hibban, Abu Ya’la mengeluarkan hadits yang semakna dengan lafazh:
لاَ يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ اْلإِيْمَانِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ.
"Seorang
hamba tidak dapat mencapai hakikat iman, hingga ia mencintai kebaikan
untuk manusia seperti yang ia cintai untuk dirinya."
Nabi صلى الله عليه وسلم , beliau bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانُ.
"Barangsiapa
mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah,
dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh, telah sempurna
imannya".
Dari an-Nu’man bin Basyir dari Nabi صلى الله عليه وسلم , beliau bersabda:
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ
الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ
بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.
"Perumpamaan kaum mukminin dalam
cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh.
Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya
yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam".
Rasulullah صلى الله عليه وسلم , beliau bersabda:
لاَ
حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ
يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ
الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقْرَؤُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ.
"Tidak
boleh hasad kecuali kepada dua orang: orang yang diberi harta oleh
Allah kemudian ia menginfakkannya di pertengahan malam dan pertengahan
siang dan orang yang diberikan Al-Qur`ân oleh Allah kemudian ia
membacanya di pertengahan malam dan pertengahan siang".
***
Seorang muslim tidak boleh membenci orang lain dalam masalah agama.
Justru, ia menyukai seluruh orang-orang mu'min terlibat dalam persaingan
dalam kelebihan-kelebihan agama. Dan ingat, semua ini harus dilakukan
semata-mata karena Allah Ta’ala, jika ada orang yang mengungguli dirinya
dalam kelebihan agama, ia berusaha keras mengejarnya, sedih atas
kelalaian dirinya, dan gundah atas ketertinggalannya dan berupaya keras
menyusul orang-orang yang lebih dahulu dalam kebaikan.
"…Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba".(al-Muthaffifîn/83:26).
***
Seorang mukmin harus terus berupaya keras meraih kedudukan tinggi di
hadapan Allah, karena sikap seperti itu membuahkan dua hal yang
berharga:
(1) berusaha keras dalam mencari keutamaan-keutamaan dan
meningkatkannya, dan (2) ia melihat dirinya sebagai orang yang kurang
sempurna.
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~
Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan
sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita
untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.
"Bersegeralah
beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam
yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu
sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia
menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)
"Bersegeralah
kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya
berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang
(gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga)
ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu
sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu
sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang
yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim
no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
BERSEGERA MEMINTA MAAF DAN MUDAH MEMAAFKAN...
--- Sudahkah ridlo Allah سبحانه و تعالى dan syurga-Nya menjadi cita-cita kita..?
--- Bersungguh-sungguhkah kita berupaya meraih kemuliaan hidup di Negeri Akherat..?
---
Jadikan paling tidak karena dua perkara ini menjadi pendorong bagi kita
untuk cepat meminta maaf ketika bersalah dan mudah memaafkan orang
lain...
MEMINTA MAAF
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
من
كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون
دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له
حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه
"Orang yang pernah menzhalimi
saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya
tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak
ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal
shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya.
Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya
dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi." (HR. Bukhari no.2449).
MEMBERI MAAF
SETIAP
BERJUMPA dengan sesama mu'min BERUPAYA KERASLAH untuk merasakan
kebaikan-kebaikanya, senang dengan kelebihan-kelebihanya, mampu
melupakan secepat mungkin kesalahan-kesalahanya... dan yakinlah bahwa
kekuranganya terlalu sedikit, sangaaat kecil.., dibandingkan dengan
kelebihan-kelebihanya... dengan pembiasaan ini semoga kita "TERBIASA
UNTUK MUDAH DAN CEPAT MEMAAFKAN ORANG LAIN". "Ya Robb kami.., ampunilah
dosa-dosa kami dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami PERASAAN
TIDAK SUKA (ghil) terhadap orang-orang mu'min..........".
وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
"Tetapi
orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Terjemah A-Quran Surat
Al-A'raaf Ayat 42-43).
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
"Jadilah
engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta
berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (Terjemah A-Quran Surat
Al-A'raaf Ayat 199).
"Allah tidak akan menambah kemaafan
seseorang, melainkan dengan kemuliaan, dan tidaklah seseorang
merendahkan dirinya karena Allah melainkan Allah akan meninggikan
derajatnya." (Hadist muttafaqun 'alaih).
Rasulullah صلى الله عليه
وسلم bersabda kepada Uqbah bin Amir r.a : " Wahai Uqbah ! maukah engkau
ku beritahukan budi pekerti ahli dunia dan akhirat yang paling utama ?
yaitu : melakukan shilaturahim (Menghubungkan kekeluargaan dengan orang
yang telah memutuskannya), memberi pada orang yang tidak memberimu, dan
memaafkan orang yang pernah menganiayamu." (dalam Ihya Ulumuddin).
Tidak
halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan hubungan) dengan
saudaranya melebihi tiga malam. Hendaklah mereka bertemu untuk berdialog
mengemukakan isi hati dan yang terbaik ialah yang pertama memberi salam
(menyapa). (HR. Bukhari).
PEMAAFNYA RASULULLAH MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم
Dalam
cuplikan Sejarah Kehidupan Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم
dikemukakan tentang perilaku dan ketinggian budi pekerti Beliau. Dalam
Perang Uhud Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendapat luka pada muka dan
juga patah beberapa buah giginya. berkatalah salah seorang sahabatnya :"
Cobalah tuan doakan agar mereka celaka." Rasulullah menjawab :"Aku
sekali kali tidak diutus untuk melaknat seseorang, tetapi aku diutus
untuk mengajak kepada kebaikan dan sebagai rahmat. Lalu beliau
menengadahkan tangannya kepada Allah Yang Maha Mulia dan berdoa :"
Allahummaghfir liqoumi fa innahum la ya'lamuun " Ya Allah ampunikah
kaumku , karena mereka tidak mengetahui ."
Rasulullah صلى الله
عليه وسلم tidak membalas dendam, tetapi justru memaafkan mereka dan
kemudian dengan rasa kasih sayang beliau mendoakan agar mereka diberi
ampunan oleh Allah سبحانه و تعالى , karena mereka adalah kaum yang belum
tahu tujuan ajakan baik yang dilakukan oleh Beliau.
Dikisahkan
dalam Perang Khaibar (Perkampungan yahudi), Zainab Binti Al-Harits,
istri Salam Bin Misykam, salah seorang pemimpin yahudi berhasil
memperoleh hadiah karena dapat membubuhkan racun pada paha kambing
panggang yang disajikan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, Beliau
makan bersama Bisyr Bin Bara Bin Ma' rur. Bisyr sempat menelan daging
beracun itu, tetapi Rasulullah صلى الله عليه وسلم baru sampai
mengunyahnya, lalu dimuntahkannya kembali sambil berkata :" Daging ini
memberitakan kepadaku bahwa dia beracun." beberapa hari kemudian Bisyr
meninggal dunia. Rasulullah صلى الله عليه وسلم memanggil Wanita yahudi
yang terkutuk itu dan bertanya kepadanya :" Mengapa engkau sampai hati
melakukan peracunan itu." Wanita itu menjawab :" kiranya tiada
tersembunyi hasrat kaumku untuk membunuh tuan, sekiranya tuan seorang
raja tentu akan mati karena racun itu dan kami akan merasa senang.
tetapi jika tuan seorang nabi, tentu tuan akan diberitahu oleh Allah
سبحانه و تعالى bahwa daging itu mengandung racun, nyatanya tuan adalah
seorang Nabi."
--- Apa yang dilakukan Rasulullah صلى الله عليه
وسلم terhadap wanita itu, padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم sudah
menguasainya ? wanita itu langsung dimaafkan dan dilepaskannya. sekarang
apa yang kita lakukan jika hal itu terjadi pada kita ? jangankan
masalah yang menyangkut nyawa, terhadap kesalahan-kesalahan yang lebih
kecil lebih sering kita SANGAT BERAT untuk memaafkan.........
---
Jika Rasulullah صلى الله عليه وسلم mudah memaafkan orang-orang yang
yang sangat berkeinginan membunuh Beliau, menyakiti pada tingkat
mengancam keselamatan jiwa......
Lalu mengapa begitu berat kita
memaafkan kesalahan orang lain yang tingkat kesalahanya tidak sampai
membahayakan keselamatan kita..??? Semoga Allah سبحانه و تعالى
melembutkan hati kita semuanya... Amin! Ya Rahmaan....
----------------------------------------------------------------------------------
--------semoga bermanfaat--------
Untuk
Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati.
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~
Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan
sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita
untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.
"Bersegeralah
beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam
yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu
sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia
menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)
"Bersegeralah
kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya
berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang
(gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga)
ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu
sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu
sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang
yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim
no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
MENJAUHI PENYAKIT HATI
"HASAD"
BILA
seseorang merasa lebih baik dan selalu ingin dilihat selalu LEBIH
segala-galanya di bandingkan orang lain, maka ia akan sangat mudah
terjangkit penyakit hati yang sangat buruk "HASAD"
Hal ini bisa kita renungkan dari kisah terjangkitnya penyakit hasad yang dialami iblis terhadap Nabi Adam 'alaihi salam...
”Saya (Iblis) lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al A’raf: 12)
Perseteruan
itu ada disebabkan Iblis hasad kepada Adam yang telah Allah سبحانه و
تعالى muliakan. Akibatnya Allah سبحانه و تعالى mengkutuk Iblis dan
menjadikannya musuh anak Adam sampai hari kiamat.
Apa itu Hasad?
Hasad
atau dengki adalah sifat seseorang yang tidak suka orang lain lebih
darinya atau tidak suka orang lain mendapatkan kenikmatan Allah سبحانه و
تعالى baik dengan keinginan kenikmatan tersebut hilang darinya atau
tidak, bila disertai perasaan ingin menghancurkan milik orang lain maka
ini merupakan hasad tingkat tinggi dan paling jelek, seperti hasadnya
Iblis kepada Adam. Sifat hasad ini dapat membuat orang berbuat zhalim,
memfitnah, menjatuhkan orang lain yang tidak disukainya.
BAHAYA Hasad diantaranya adalah:
Orang
yang memiliki sifat hasad tidak dapat menyempurnakan imannya, sebab ia
tidak akan dapat mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.
Padahal
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ”Tidak sempurna iman
salah seorang kalian sampai cinta untuk saudaranya seperti cinta untuk
dirinya“. (HR. Bukhari, no.13, Muslim no. 45)
Bahkan lebih dari itu orang yang hasad sangat bahagia dan senang bila saudaranya celaka dan binasa.
Ada
dalam sifat hasad ini ketidak sukaan terhadap taqdir yang Allah سبحانه و
تعالى berikan kepadanya, sebab siapa yang memberikan nikmat kepada
orang lain tersebut? Tentu saja
Allah سبحانه و تعالى. Seakan-akan ia
ingin ikut berperan aktif dalam penentuan takdir Allah سبحانه و تعالى
dengan merasa bahwa ia lebih pantas mendapatkan nikmat tersebut dari
orang lain.
Menyusahkan diri sendiri sebab ia tidak mampu merubah
sedikitpun takdir Allah سبحانه و تعالى. Allah telah memberikan nikmat
pada orang lain dan tidak akan tercegah dan terhalangi oleh ulah orang
yang hasad tersebut. Walaupun ia telah berusaha dengan mencurahkan
seluruh kesungguhan dan kemampuannya tidak akan mungkin merubah
takdirAllah سبحانه و تعالى yang sudah ditetapkan. Sehingga semua
usahanya hanyalah sia-sia belaka.
Setiap orang lain mendapatkan
kenikmatan, semakin besar dan kuat api hasad dalam dirinya, sehingga ia
selalu penasaran dan duka serta hatinya terbakar api hasad tersebut.
Hasad
MEMAKAN DAN MELUMAT kebaikan yang dimilikinya sebagaimana api memakan
dan melumat kayu bakar yang kering. Ini yang dinyatakan Rasulullah صلى
الله عليه وسلم dalam sabdanya:”Jauhkanlah (oleh kalian) dengki (hasad)
karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu
bakar.” (HR. Abu Daud no.4903, di-hasan-kan Ibnu Hajar Al Asqalani di
Takhrij Al Misykah 4/450)
Hasad mencegah pemiliknya dari berbuat
amal kebaikan dan kemanfaatan. Hal ini karena ia selalu sibuk dengan
memikirkan dan melihat milik orang lain sehingga seluruh hidupnya hanya
untuk memikirkan bagaimana datangnya kenikmatan pada orang lain dan
bagaimana cara menghilangkannya.
Hidupnya tidak pernah tenang dan
tentram, apalagi bahagia. Orang yang hasad selalu dalam keadaan gundah
gulana dan resah melihat orang lain lebih darinya. Padahal mesti ada
orang ;ain yang memiliki kelebihan darinya.Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda: “Janganlah saling hasad dan berbuat najasy dan
janganlah saling bermusuhan serta saling mendiamkan dan jadilah kalian
bersaudara“. (HR. Muslim no.2559).
Dari Ibnu Mas'ud r.a. berkata:
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Tidak boleh seorang menginginkan hak
orang lain kecuali dua macam yaitu seseorang yang diberi kekayaan harta
oleh Allah lalu digunakannya semata-mata untuk memperjuangkan kebenaran
dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah lalu digunakan dan diajarkan
kepada manusia." (HR. Bukhari - Muslim).
Dari Ibnu Umar r.a.
berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Tidak boleh seseorang
iri terhadap orang lain kecuali dalam dua hal yaitu seseorang yang
diberi pengertian Al Qur'an lalu ia mempergunakannya sebagai pedoman
amalnya siang-malam dan seseorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta
lalu ia membelanjakannya siang-malam untuk segala amal kebaikan." (HR.
Bukhari - Muslim).
!!!Marilah kita tinggalkan HASAD dari diri kita.
----------------------------------------------------------------------------------
--------semoga bermanfaat--------
Untuk Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~
Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan
sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita
untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.
"Bersegeralah
beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam
yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu
sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia
menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)
"Bersegeralah
kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya
berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang
(gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga)
ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu
sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu
sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang
yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim
no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
RAMADHAN PENUH BERKAH
RAMADHAN PENUH BERKAH (bag:I)
Kesempurnaan hasil ibadah puasa di Bulan Suci Ramadahan SEMOGA mampu kita raih bersama,
Rasulullah
Muhammad صلى الله عليه وسلم mengajarkan kepada kita dalam melaksanakan
puasa di bulan suci ramadhan tidak sekedar menahan diri dari lapar dan
dahaga...lebih dari itu...
Orang yang berpuasa hendaknya
meninggalkan percecokan karena salah satu tujuan puasa adalah melatih
diri untuk menahan amarah, sebagaimana yang tersebut dalam suatu hadits:
الصيام جنة ، فإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب ، فإن امرء سابه أو قاتله فليقل : إني صائم
"Puasa
adalah perisai. Jika pada hari dia puasa maka janganlah berkata keji
atau kasar. Jika seseorang mencelanya atau menyerangnya, hendaknya ia
berkata, ‘Saya sedang puasa’."(HR Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda yang artinya:
"Berapa banyak orang yang puasa tidak mendapat dari puasanya kecuali lapar dan dahaga".
(HR Nasai dan Ibnu Majah).
puasakan lisan untuk tidak bicara keji dan kotor, tidak bicara ghibah, tidak bicara yang menyakiti...
puasakan diri untuk tidak marah, tidak dengki, tidak bangga diri, tidak merendahkan orang lain...
Puasakan seluruh anggota badan, untuk tidak bermaksiat.
Firman Allah سبحانه و تعالى
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa", (Terjemah
Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat:183)
*. Tersebut dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:
قَدْ
جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، كَتَبَ الله عَلَيْكُمْ
صِيَامَهُ، فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ
أَبْوِابُ الجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ
خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ : رواه
أحمد والنسائي.
"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang
diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini
pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan
diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu
bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak
memperoleh apa-apa".(H.R. Ahmad dan An Nasa’i).
*. Dari Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَتَاكُمْ
رَمَضَانُ شَهْرُ بَرَكَةٍ، يَغْشَاكُم الله فِيْهِ، فَيُنَزِّلُ
الرَّحْمَةَ، وَيَحُطُّ الخَطَايَا، وَيَسْتَجِيْبُ فِيْهِ الدُّعَاءَ،
يَنْظُرُ الله إِلَى تَنَافُسِكُمْ فِيْهِ، وَيُبَاهِي بِكُمْ
مَلاَئِكَتَهُ، فَأَرُوْا الله مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا، فَإِنَّ
الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيْهِ رَحْمَةَ الله : رواه الطبراني ورواته ثقات.
"Telah
datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu
pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, mengahapus dosa-dosa dan
mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini
dan Dia membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka tunjukkanlah
kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang yang
sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini". (H.R.
Ath Thabrani, dan periwayatnya tsiqah).
*. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:
أُعْطِيَتْ
أُمَّتِيْ فِيْ شِهْرِ رَمَضَانَ خَمْسُ خِصَالٍ لَمْ تُعْطَهَا أُمَّةٌ
قَبْلَهَا: خَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عَنْدَ الله مِنْ رِيْحِ
المِسْكِ، وَتَسْتَغْفِرُ لَهُمْ المَلاَئِكَةُ حَتَّى يُفْطِرُوْا،
وَيُزَيِّنُ الله كُلَّ يَوْمٍ جَنَّتَهُ ثُمَّ يَقُوْلُ: يُوْشِكُ
عِبَادِيَ الصَّالِحُوْنَ أَنْ يُلْقَوْا عَنْهُم المُؤْنَةَ وَالأَذَى
وَيَصِيْرُ إِلَيْكَ، وَتُصْفَدُ فِيْهِ مَرَدَةُ الجِنِّ فَلاَ
يَخْلُصُوْنَ فِيْهِ إِلَى مَا كَانُوْا يَخْلُصُوْنَ إِلَيْهِ فِيْ
غَيْرُهُ، وَيُغْفَرُ لَهُمْ فِيْ آخِرِ لَيْلَةٍ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ
الله أَهِيَ لَيْلَةُ القَدْرِ؟ قَالَ: لاَ، وَلَكِنَّ العَامِلَ إِنَّمَا
يُوَفَّى أَجْرُهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُ : رواه أحمد.
"Umatku pada
bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat
sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi
Allah daripada aroma kasturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi
mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wajalla setiap hari menghiasai
surganya lalu berfirman (kepada surga): “hampir tiba saatnya para
hambaku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju
kepadamu.” Pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka
tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada
umatku ampunan pada akhir malam.” Beliau ditanya: “Wahai Rasulullah
apakah malam itu lailatul Qadar? Jawab beliau: “Tidak. Namun orang yang
beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya". (HR.
Ahmad).
Lapar dan haus semakin meningkatkan sensitifitas dan
kepedulian kepada orang-orang yang kekurangan di sekeliling kita,
optimalisasi ibadah menyebabkan kita lebih dekat kepada Allah dan
mencintai-Nya.
RAMADHAN PENUH BERKAH (bag:II)
Setelah
melaui waktu sepertiga awal di bulan Suci Ramadhan ini, kita berharap
semoga bisa menjaga amal-amal shaleh yang sudah kita tunaikan beberapa
hari ini hingga Ramadhan usai nanti sejalan dengan upaya selalu
mengevaluasi jika karena kesibukan keseharian dan lain-lain, kita merasa
belum maksimal beribadah, semoga hari-hari ke depan kita semua lebih
bisa mengoptimalkan amal-amal shaleh kita. Dan semoga tausiah singkat
ini bisa lebih menambah hamasyah dan jiddiyah, bisa lebih menambah
semangat dan kesungguhan kita untuk mengoptimalkan ibadah di bulan
penempaan/bulan ramadhan yang sedang kita sama-sama jalani.
قال رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم: ألجنّة مشتاقة لأربعة نفر : تالي القرآن وحافظ اللّسان ويطعم الجيعان وصوم رمضان
Artinya:
Rasulullah
Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda: "Surga akan merindukan empat
golongan, yakni orang yang gemar membaca Al Qur’an, kedua: golongan
orang yang pandai menjaga ucapannya, ketiga: golongan orang yang mau
memberikan kepada mereka yang sedang lapar, dan keempat adalah golongan
orang-orang yang mau berpuasa Ramadhan”.
Dari hadits di atas
tentunya kita menginginkan denan izin Allah سبحانه و تعالى bisa menjadi
bagian dari ahli surga maka marilah kita bersegera untuk ambil bagian
dari keempat golongan tersebut. Paling tidak jika ada kesempatan
melakukan salah satu diantaranya dan akan jauh lebih baik jika kita
berupaya sekuat tenaga untuk bisa meraih ke empat keutamaan di atas:
---Tingkakan tilawah Al-Qur'an ---Menjaga lisan dari perkataan ghibah,
kotor dan keji, memfitnah, bersumpah palsu, menyakiti orang lain
---Perbanyak bersodakoh ---Bersungguh-sungguh, penuh hikmat dalam
melaksanakan seluruh rangkaian ibadah Ramadhan.
RAMADHAN PENUH BERKAH (bag:III)
I'TIKAF DAN BERSUNGGUH SUNGGUH UNTUK MERAIH MALAM LAILATUL QADAR
Kata
i'tikaf berasal dari 'akafa alaihi', artinya senantiasa atau berkemauan
kuat untuk menetapi sesuatu atau setia kepada sesuatu. Secara harfiah
kata i'tikaf berarti tinggal di suatu tempat, sedangkan secara istilah
kata i'tikaf berarti tinggal di masjid untuk beberapa hari, teristimewa
sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Selama hari-hari itu,
seorang yang melakukan i'tikaf mengasingkan diri dari segala urusan
duniawi dan menggantinya dengan kesibukan ibadah shalat, membaca
Al-Quran dan dzikir kepada Allah dengan sepenuh hati. Dengan i'tikaf
seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم
Kita
berserah diri kepada Allah سبحانه و تعالى dengan menyerahkan segala
urusannya kepada-Nya, dan bersimpuh di hadapan Allah سبحانه و تعالى
untuk mendapat curahan rahmat-Nya.
Yang dilakukan pada saat
i'tikaf pada hakikatnya adalah taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah
سبحانه و تعالى. Makna taqrrub adalah mendekatkan diri kepada Allah
سبحانه و تعالى dengan beragam rangkaian ibadah. Lebih dari itu selama
beri'ikaf kita berharap besar untuk mendapat malam lailatul qadar, malam
yang lebih baik dari seribu bulan, malam yang dikabulkan doa-doa oleh
Allah سبحانه و تعالى
Hamba-hamba Allah سبحانه و تعالى yang ingin
memperbaiki, mengubah, dan mengoptimalkan kualitas hidupnya pada
penilaian Allah, harus fokus menggiatkan ibadah di sepuluh malam akhir
Ramadhan. Ini sesuai dengan kandungan surah Al-Qadar bahwa Lailatul
Qadar adalah untuk orang-orang berjiwa unggul dan menginginkan kemuliaan
di sisi Rabbnya.
Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:
قَدْ
جَاءَكُمْ رَمَضَانَ شَهْرٌ مَبَارَكٌ اِفْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ
صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهَ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَ تُغْلَقُ فِيْهِ
أَبْوَابُ الجَحِيْمِ وَ تُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ
خَيْرُ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Telah datang kepada kalian
Ramadhan,bulan keberkahan.Allah telah mewajibkan kalian shaum di
dalamnya. Di bulan itu pintu-pintu surga di buka,pintu-pintu neraka
ditutup dan setan-setan dibelenggu.Di bulan itu pula terdapat suatu
malam yang lebih baik dari seribu bulan (HR an-Nasa’i dan al-Baihaqi).
Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)
----------------------------------------------------------------------------------
--------semoga bermanfaat--------
Untuk
Anggota Grup AHSANU QAWLAN Penyejuk Hati.
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------
(((~~~
Saat jiwa kita sangat mencintai kebenaran, maka rawatlah dengan
sebaik-baiknya, sehingga Allah juga berkenan merawat dan melindungi kita
untuk menjadi hamba-Nya yang selalu ber-istiqomah.
"Bersegeralah
beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam
yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu
sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia
menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad no: 8493)
"Bersegeralah
kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (shalih) sebelum munculnya
berbagai macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang
(gambarannya) seperti satu bagian malam yang gelap gulita, (sehingga)
ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di waktu
sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu
sore dia masih memiliki iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang
yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia.” (HR. Muslim
no: 118).~~~)))
----------------------------------------------------------------------------------
***************************************************
----------------------------------------------------------------------------------